RELUNG.ID – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per November mengalami lonjakan secara tahunan atau Year to Year (Yoy).
Berdasarkan data Bank Indonesia, ULN Indonesia ini tercatat sebesar 424,1 miliar Dolar AS atau sekitar Rp6.950 triliun pada November 2024.
Dikutip dari press rilis Bank Indonesia (BI), utang tersebut berasal dari ULN baik pemerintah dan swasta. Di mana, secara tahunan per Noember meningkat sebesar 203,0 miliar Dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut BI, perkembangan ULN ini dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional dan penarikan pinjaman luar negeri yang digunakan untuk mendukung beberapa program dan proyek pemerintah.
“ULN pemerintah ini untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, kemudian, administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib. Lalu, jasa pendidikan, kontruksi serta jasa keuangna dan asuransi,” ujarnya.
BI pun merincikan, untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yaitu sebesar 20,9 persen dari total ULN pemerintah. Kemudian, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 19,4 persen.
Lalu, Jasa Pendidikan sebesar 16,8 persen, Konstruksi sebesar 13,5 persen, serta Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 9,0 persen.
Sementara itu, ULN swasta tercatat sebesar 194,6 miliar Dolar AS atau sekitar Rp3.191 triliun. Angka tersebut turun sebesar 1,6 persen Yoy dengan kontraksi lebih dalam dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar 1,4 persen.
“Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang mencatat kontraksi 1,7 persen yoy,” terangnya.
ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,4 persen dari total ULN swasta.
“ULN itu masih aman dan terkendali. Ini terlihat dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat turun menjadi 30,5 persen pada November 2024,” tutupnya. (AAL)

