Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Bisnis»Utang Luar Negeri Naik Tipis, Indonesia Jaga Irama Pembangunan di Tengah Tekanan Global
Bisnis

Utang Luar Negeri Naik Tipis, Indonesia Jaga Irama Pembangunan di Tengah Tekanan Global

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda15/10/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Ilustrasi Dolar, Foto : Pixabay
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID — Di tengah gejolak pasar keuangan dunia dan ketatnya aliran modal asing, Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia masih tumbuh terkendali. Posisi ULN pada Agustus 2025 tercatat sebesar USD 431,9 miliar, naik 2,0 persen secara tahunan (yoy) — lebih lambat dibandingkan Juli 2025 yang tumbuh 4,2 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perlambatan ini menunjukkan arah positif pengelolaan utang pemerintah dan swasta yang lebih selektif di tengah ketidakpastian global.

“Perkembangan ini terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan penurunan ULN sektor swasta. Artinya, kita semakin hati-hati dalam menarik utang baru,” ujar Ramdan melalui keterangan resmi, Selasa (14/10).

ULN pemerintah pada Agustus 2025 tercatat USD 213,9 miliar, tumbuh 6,7 persen (yoy)—melambat dibanding Juli yang tumbuh 9,0 persen.

Ramdan menjelaskan, perlambatan ini sejalan dengan menurunnya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN), di tengah volatilitas global yang masih tinggi.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa penggunaan ULN pemerintah tetap diarahkan pada program-program produktif yang menopang ekonomi nasional.

“Sebagai instrumen pembiayaan APBN, ULN dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan akuntabilitas, serta difokuskan untuk sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, pertahanan, hingga transportasi,” jelasnya.

Berdasarkan data BI, sebagian besar ULN pemerintah digunakan untuk, Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial: 23,4%, Jasa Pendidikan: 17,2%, Administrasi Pemerintah & Pertahanan: 15,7%, Konstruksi: 12,3%, Transportasi & Pergudangan: 9% dan Jasa Keuangan & Asuransi: 8%

Hampir seluruh ULN pemerintah — 99,9% — merupakan utang jangka panjang, menandakan risiko pembayaran yang rendah dan struktur yang sehat.

Sementara itu, ULN swasta turun menjadi USD 194,2 miliar, mengalami kontraksi 1,1 persen (yoy), lebih dalam dibanding Juli yang kontraksi 0,2 persen.

Penurunan ini terutama terjadi di perusahaan non-keuangan, seperti industri pengolahan dan pertambangan, yang masih menahan ekspansi akibat fluktuasi harga komoditas dan pembiayaan global yang mahal.

Ramdan menyebut, sektor swasta kini lebih berhati-hati dalam menarik pinjaman luar negeri agar tidak menambah beban di tengah tingginya biaya dana global.

Dengan total ULN setara 30,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), posisi Indonesia masih jauh di bawah ambang batas aman internasional.

“Struktur ULN kita tetap sehat, didukung dominasi utang jangka panjang sebesar 85,9 persen dari total ULN. Ini menunjukkan risiko jangka pendek masih sangat terkendali,” ujar Ramdan.

BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk memastikan utang luar negeri tetap produktif dan tidak menimbulkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Fokus kami menjaga agar ULN berperan menopang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan risiko yang bisa mengguncang stabilitas,” tutup Ramdan.[THQ]

Bank Indonesia Utang Luar Negeri
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleSriwijaya FC di Ujung Tanduk, Herman Deru Ajak Suporter dan Pemerintah Bersatu Selamatkan Ikon Sumsel
Next Article Rusak Lingkungan Hingga Timbulkan Konflik Sosial, Bupati PALI Setop Operasional Sriwijaya Tansri Energi
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Bisnis

Naik Rp15 Ribu, Ini Daftar Terbaru Harga Emas Antam

30/09/20266 Views
Bisnis

Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga

27/09/202613 Views
Bisnis

Turis Asing Belanja Pakai QRIS Capai Rp6,2 Triliun, 96,7 Persen Merchant UMKM

27/09/20265 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,902 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,774 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,747 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?