RELUNG.ID – Video Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi Mahzareki menikmati sambal seruit di salah satu rumah makan di Lampung viral di media sosial.
Video tersebut menuai kritik dari warganet lantaran berlangsung saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel masih menimbulkan kabut asap.
Menanggapi video tersebut, Herman Deru mengaku sudah melihat rekaman yang beredar. Dia mengatakan tidak mempermasalahkan kritik yang disampaikan masyarakat.
“Saya tidak marah, mereka melihat sepotong saja,” ujar Herman Deru di kantornya, Senin (5/10/2026).
Herman Deru menjelaskan keberadaannya di Lampung bukan untuk berlibur. Sebelum bertolak ke Lampung, dia menghadiri acara groundbreaking peresmian jembatan di Kabupaten Ogan Ilir bersama Bupati Panca.
Setelah itu, Herman Deru bersama Bupati OKI Muchendi memiliki agenda untuk menentukan titik keluar tol di perbatasan Lampung dan OKI.
Namun, agenda tersebut berubah setelah Herman Deru mendapat kabar mengenai kondisi kakaknya yang kritis.
“Ini saya mendadak harus ke Lampung karena kakak saya kritis. Ke sana saya bukan holiday. Saya nggak sempat mampir (ke OKI), dapat kabar langsung ke Lampung dan bertemu Muchendi (Bupati OKI),” ujarnya.
Menurut Herman Deru, pertemuannya dengan Muchendi kemudian terekam dalam video yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, keduanya terlihat menikmati makanan khas Lampung berupa sambal seruit.
Video itu kemudian menjadi sorotan warganet karena Herman Deru dan Muchendi dinilai tidak berada di lokasi penanganan karhutla ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumsel.
Selain video makan seruit, Herman Deru juga menanggapi video istrinya, Feby Deru, yang mengikuti agenda fashion show di Jakarta.
Dia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Kriyanusa 2026, agenda nasional yang berkaitan dengan promosi produk kerajinan dan UMKM daerah.
“Itu adalah agenda nasional yang diperuntukkan untuk Pemkab, Pemkot, ketuanya para istri kepala daerah dan diberikan space untuk menjelaskan, memasarkan produk tradisional budaya yang daerah masing-masing,” ungkapnya.[YKP]

