RELUNG.ID – Informasi yang menyebut Kota Palembang masuk zona merah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) ramai beredar di media sosial, Senin (7/9/2026).
Informasi tersebut muncul setelah akun Instagram @oypalembang membagikan tangkapan layar peta dengan keterangan “Update Peta Zona Merah Abu Vulkanik Anak Krakatau”.
Peta itu mencantumkan waktu pembaruan sekitar pukul 03.30 WIB dan disebut bersumber dari SIGMET Alert melalui InaSIAM milik BMKG.
Dalam peta tersebut, Palembang terlihat berada di dalam poligon berwarna merah muda atau oranye yang juga mencakup sejumlah wilayah lain di Sumatera dan Jawa.
Menggapai hal tersebut, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menegaskan warna pada peta tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai tanda bahwa abu vulkanik telah terkonfirmasi mencapai Palembang.
Menurutnya, peta tersebut merupakan produk analisis dan prediksi sebaran abu vulkanik yang menunjukkan adanya peluang atau indikasi abu dari aktivitas Gunung Anak Krakatau berpotensi bergerak hingga ke wilayah yang berada dalam poligon.
“Warna poligon berwarna merah muda atau orange yang melingkari wilayah Palembang itu memberi makna dari hasil analisis BMKG bahwa ada potensi atau indikasi abu vulkanik yang bersumber dari Anak Krakatau memungkinkan sampai ke wilayah Palembang,” jelas Siswanto, Senin (7/9/2026).
Siswanto mengatakan informasi tersebut juga memiliki masa berlaku tertentu, sehingga tidak bisa dipahami sebagai kondisi yang berlangsung sepanjang hari.
Berdasarkan peta yang beredar, prediksi tersebut berlaku pada rentang waktu sekitar pukul 06.30 hingga 09.30 WIB. Setelah periode tersebut berakhir, bentuk maupun cakupan poligon pada peta dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan hasil analisis terbaru.
“Lagi-lagi itu merupakan peta prediksi sebaran abu vulkanik dari Gunung Krakatau yang memungkinkan masuk ke wilayah Palembang,” katanya.
Siswanto menegaskan, untuk memastikan apakah abu vulkanik benar-benar telah mencapai Palembang, diperlukan pengamatan langsung di lapangan. Sebab, peta tersebut pada dasarnya merupakan informasi prediktif yang salah satu kepentingan utamanya berkaitan dengan keselamatan penerbangan.
Menurutnya, abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan sehingga informasi mengenai potensi pergerakannya sangat penting. Pesawat perlu menghindari wilayah yang diperkirakan memiliki konsentrasi abu vulkanik.
“Untuk memastikan abu vulkanik benar masuk ke Palembang atau tidak harus dilakukan pengamatan secara langsung,” ujarnya.
Untuk memastikan kondisi di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, BMKG juga telah melakukan pengamatan menggunakan metode sederhana yang dikenal sebagai paper test.
Pengamatan dilakukan dengan menempatkan kertas HVS yang salah satu sisinya dicetak hitam di area terbuka dan bebas dari gangguan.
Kertas tersebut kemudian diamati untuk melihat kemungkinan adanya partikel yang menempel. Jika terdapat partikel, pengamatan tidak berhenti pada pemeriksaan visual
Selanjutnya, petugas perlu memastikan karakteristik partikel tersebut, terlebih Sumatera Selatan saat ini juga tengah menghadapi persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Artinya, partikel yang ditemukan belum tentu berasal dari aktivitas vulkanik. Bisa saja partikel tersebut merupakan material dari asap atau abu karhutla.
“Kalau terlihat partikel debu itu ada indikasi, tetapi juga harus dipastikan apakah partikel itu bersumber dari abu vulkanik atau karhutla,” kata Siswanto.
Salah satu pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan meraba partikel yang menempel pada kertas. Abu vulkanik umumnya mengandung material mineral, termasuk silika, sehingga karakter partikelnya relatif lebih kasar dibandingkan partikel dari pembakaran vegetasi.
Meski demikian, pengamatan tersebut tetap menjadi bagian dari proses identifikasi dan tidak serta-merta menjadi dasar untuk menyimpulkan sumber partikel tanpa pemeriksaan yang memadai.
Dirinya menilai persoalan utama dari informasi yang beredar bukan semata-mata pada peta yang ditampilkan, melainkan pada hilangnya konteks ketika gambar tersebut disebarluaskan.
Menurut dia, masyarakat yang hanya melihat tangkapan layar berpotensi menangkap kesimpulan berbeda, seolah-olah abu vulkanik sudah dipastikan berada di Palembang.
Padahal, informasi yang ditampilkan merupakan prediksi dengan periode waktu tertentu dan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
“Informasi yang diterima masyarakat itu sebenarnya bukan informasi abu vulkanik yang sudah sampai ke Palembang. Poligon merah muda atau orange itu hanya indikasi awal bahwa prediksinya memungkinkan sampai wilayah Palembang,” tegasnya.
Ia mengatakan, ketika tangkapan layar peta disebarkan tanpa narasi dan penjelasan mengenai periode berlakunya, informasi tersebut dapat menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
Terlebih, ketika peta telah berantai dan viral di media sosial, masyarakat cenderung memahami warna merah sebagai tanda wilayah yang sudah terdampak. Padahal, peta indikasi sebaran abu vulkanik dapat berubah seiring perubahan kondisi atmosfer.
“Kalau sekarang warna tersebut sudah hilang, dari link peta indikasi berubah karena faktor kondisi atmosfer,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak langsung menyimpulkan kondisi berdasarkan tangkapan layar peta yang beredar di media sosial. Informasi mengenai sebaran abu vulkanik perlu dibaca bersama waktu berlaku, keterangan produk, serta hasil pengamatan aktual di lapangan. (THQ)

