RELUNG.ID- Pasangan suami istri pelancong, John Stephen dan Riana Subandi, mengaku mengalami pemalakan saat berkunjung ke Kampung Adat Ratenggaro, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kisah mereka viral di media sosial dan menuai perhatian publik, termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Dalam unggahan di akun Instagram mereka @jajago.keliling.indonesia, John dan Riana menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat berwisata ke Ratenggaro pada 12 Mei 2025.
Mereka mengaku dipalak oleh sejumlah warga, termasuk anak-anak dan orang dewasa, yang memaksa menawarkan jasa foto, penyewaan kuda, hingga meminta uang dengan berbagai dalih seperti “uang rokok”, “uang buku”, dan “uang sukarela”.
Tak hanya itu, harga jasa yang awalnya telah disepakati juga disebut-sebut dinaikkan sepihak. Insiden pemalakan tak berhenti di kawasan wisata. Dalam perjalanan pulang, mobil campervan mereka juga dihadang oleh orang tak dikenal di jalan poros tengah Ratenggaro menuju Tambolaka yang kembali meminta uang.
“Sumpah aku nggak bakal lagi ke tempat wisata ini, sumpah bener,” keluh John dalam videonya.
Menanggapi kejadian tersebut, Kementerian Pariwisata melalui Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis, Fadjar Hutomo, menyampaikan keprihatinan dan penyesalan. Ia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk segera melakukan pembinaan dan pengawasan.
“Kementerian Pariwisata sangat menyayangkan dan menyesalkan terjadinya peristiwa yang terjadi di destinasi pariwisata Kampung Adat Ratenggaro. Kami telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk segera melakukan pembinaan,” ujar Fadjar, Selasa (20/5/2025).
Fadjar juga menyebutkan bahwa pihak Pemkab dan Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya akan menggelar pertemuan dengan pengelola desa adat, camat, Polsek, Danramil, kepala desa, serta tokoh masyarakat setempat. Sosialisasi dan pembekalan kepada warga, terutama anak-anak, dijadwalkan berlangsung pada Selasa (20/5) di Desa Adat Ratenggaro.
Kemenpar juga akan mendampingi pengelolaan desa wisata Ratenggaro agar lebih ramah wisatawan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat dan pengelola destinasi.
“Kami akan melakukan pendampingan pengelolaan destinasi agar lebih ramah terhadap wisatawan melalui peningkatan kapasitas SDM masyarakat,” tutup Fadjar.[YKP]

