“Kita akan lihat, mungkin sebulan atau dua bulan ke depan, bisa jadi ada anak desa dari tepian Kabupaten ini akan ikut ambil bagian,” kata Aan, Rabu (3/4).
Dia menganalogikan, siapa yang awalnya menduga jika Jokowi yang berasal dari kota kecil bisa muncul memimpin Indonesia.
Begitu pula Kabupaten Muara Enim, yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir ternyata telah dipimpin oleh lima orang Bupati.
“Semua yang tak mungkin akan menjadi mungkin. Apalagi kalau hanya sekelas Kabupaten, semuanya menjadi lebih mungkin. Saat ini opini di tengah masyarakat terus berkembang. Mengenai pemimpin yang tegas, bisa mengondusifkan hubungan antara perusahaan tambang dan masyarakat dan masih banyak lagi (masalah) yang harus diselesaikan,” ungkapnya.
Namun kembali lagi dia menegaskan bahwa saat ini masyarakat Muara Enim bisa saja sudah muak dengan politisi dan birokrasi.
Apalagi mereka ini selalu menampilkan kamuflase di tengah masyarakat, padahal niat yang sebenarnya adalah merebut kekuasaan.
Hal inilah yang menurut Aan terlihat dalam wajah pemerintahan Muara Enim lima tahun ke belakang. Di sisi lain, hal ini pula akan menjadi alasan berubahnya persepsi masyarakat mengenai sosok pemimpin yang diharapkan muncul dan pantas untuk memimpin Muara Enim,
“Saya lebih tertarik untuk menunggu nama-nama yang diusung dari harapan dan mimpi rakyat untuk Muara Enim yang lebih baik, Kabupaten ini layaknya air mata yang sedang membutuhkan sapu tangannya,” tutup Aan.

