RELUNG.ID — La Nina lemah masih enggan beranjak dari wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Meski diprediksi bakal segera memasuki fase netral pada periode Februari–Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius terkait potensi cuaca ekstrem yang membayangi sejumlah wilayah di Bumi Sriwijaya.
Kepala Stasiun Klimatologi Klas I Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa indeks ENSO saat ini berada di angka -0,4, yang mengonfirmasi bahwa La Nina lemah masih aktif memicu peningkatan massa uap air di atmosfer Sumsel.
Distribusi hujan di Sumsel pada pertengahan Februari ini terpantau tidak merata. Berdasarkan data terbaru, beberapa kabupaten di wilayah Barat dan Selatan justru harus bersiap menghadapi curah hujan kategori tinggi.
Zona Merah (Curah Hujan Tinggi: 150–300 mm): Meliputi wilayah Empat Lawang, Lahat, OKU Timur, dan OKU Selatan.
Zona Menengah (50–150 mm): Mendominasi sebagian besar wilayah Sumsel.
Zona Rendah (0–50 mm): Tercatat di wilayah Banyuasin bagian timur laut dan sebagian besar OKI.
“Titik akumulasi hujan tertinggi saat ini tercatat di Pos Pancaran Musi, Tebing Tinggi, Empat Lawang yang mencapai 240 milimeter,” papar Wandayantolis, Sabtu (21/2/2026).
Selain pengaruh La Nina, aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) di fase 2 wilayah Samudra Hindia menjadi motor penggerak pembentukan awan hujan. MJO diprediksi akan bergerak ke fase 3 hingga akhir Februari, yang berarti peluang hujan dengan intensitas menengah masih di atas 70 persen.
Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih stabil di fase netral. Perpaduan fenomena ini menciptakan karakteristik hujan yang masuk dalam kategori “Normal” hingga “Di Atas Normal”.
Meski tren curah hujan secara umum diprediksi akan mengalami penurunan bertahap menuju fase netral, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang tidak bisa disepelekan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kejadian cuaca ekstrem. Pantau terus informasi terkini agar langkah antisipasi bencana bisa dilakukan lebih awal,” tegas Wandayantolis.[THQ]

