RELUNG.ID – Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Empat Lawang, mencatat lonjakan yang patut diwaspadai.
Sejak awal Januari hingga awal Desember 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat telah mencatat 22 kasus positif DBD, dengan Kecamatan Saling menduduki peringkat teratas sebagai wilayah paling rawan.
Data Dinkes yang dirilis menunjukkan bahwa sebaran kasus DBD terjadi hampir merata di sebagian besar kecamatan.
Kecamatan Saling 8 Kasus (terbanyak), Muara Pinang 4 Kasus, Lintang Kanan 3 Kasus, Tebing Tinggi 3 Kasus, Pendopo Barat (Pobar) 2 Kasus, Pendopo 1 Kasus dan Ulu Musi 1 Kasus.
Sementara itu, kabar baik datang dari tiga kecamatan, yakni Pasemah Air Keruh (Paiker), Talang Padang, dan Sikap Dalam, yang dilaporkan nihil dari kasus DBD sepanjang tahun ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes, Kiki Nurhayati, menegaskan bahwa fokus utama penanggulangan DBD bukanlah pada pengasapan (fogging), melainkan pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dan masif.
“Pencegahan DBD yang paling efektif adalah dengan PSN. Kita harus memastikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti itu benar-benar hilang,” ujar Kiki Nurhayati.
Ia menjelaskan bahwa fogging hanyalah upaya terakhir dan memiliki risiko jika dilakukan terus-menerus tanpa prosedur yang tepat.
“Jika hanya nyamuk dewasanya saja yang di-fogging, maka masih akan menyisakan jentik-jentik. Nyamuk akan timbul lagi dan tidak akan selesai,” tegasnya.
Kiki juga mewanti-wanti bahaya di balik asap fogging, yang mengandung bahan kimia atau pestisida. Jika dilakukan tanpa SOP yang ketat, bahan kimia tersebut dapat membahayakan anak-anak dan lingkungan.
“Yang harus diwaspadai itu jentik nyamuknya. Kalau fogging dilakukan terus-menerus tanpa SOP tepat, akhirnya nyamuk menjadi resistan. Jadi, ketika mau di-fogging lagi, malah tidak mempan,” tutupnya. (SLM)

