RELUNG.ID – Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat setidaknya ada 128 aduan atau laporan terkait Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Indonesia hingga tahun 2023.
Aktivitas tersebut berada di beberapa wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.
Laporan terbanyak diterima dari Provinsi Sumatera Selatan dengan 25 aduan, disusul oleh Provinsi Riau dengan 24 aduan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan 128 aduan tersebut didapat berdasarkan laporan kepolisian dan keterangan ahli kasus PETI.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, individu atau entitas yang melakukan kegiatan pertambangan tanpa memiliki izin yang sah, atau mereka yang sudah memiliki izin usaha pertambangan (IUP) atau izin usaha pertambangan khusus (IUPK) untuk eksplorasi namun justru melakukan kegiatan produksi, akan dikenakan sanksi yang sama.
“Sanksi tersebut berupa pidana penjara paling lama lima tahun dan denda maksimal Rp100 miliar,” katanya, Selasa (12/11).
Untuk memberantas pertambangan ilegal, Tri menyebut Kementerian ESDM telah menerapkan tiga strategi utama.
Ketiga strategi tersebut adalah digitalisasi sistem perizinan, mendorong formalitas dalam kegiatan pertambangan, serta meningkatkan penegakan hukum terhadap pelanggar. (EWJ)

