RELUNG.ID – Pembangunan proyek pengembangan jaringan irigasi Ataran Air Lemutu di Lubuk Genting 1, Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, diduga dikerjakan asal jadi. Saluran irigasi yang baru dibangun dilaporkan ambruk dan menyebabkan puluhan hektare sawah mengalami kekeringan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, saluran irigasi atau siring yang dibangun PT Danadipa Cipta Konstruksi dengan kode lelang 10048797000 dan pagu anggaran Rp7.162.400.000 dari APBD 2025, terlihat roboh ke bibir Sungai Lemutu.
Untuk mencapai lokasi, perjalanan dari Kota Muara Enim memakan waktu sekitar tiga jam menggunakan kendaraan roda dua. Dari Desa Tanjung Bulan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 2 kilometer menyusuri area persawahan, kebun karet, semak belukar, dan lereng perbukitan.
Di lokasi, ditemukan sejumlah kerusakan pada bangunan irigasi. Dinding siring ambruk dan lantai dasar terlihat tipis. Warga menduga pembangunan tidak sesuai spesifikasi teknis. Tulangan besi disebut berdiameter kecil, sekitar 6 milimeter, dengan jarak pemasangan 40 sentimeter dan tidak diikat kuat. Lantai dasar diperkirakan hanya setebal sekitar 2 sentimeter.
Selain itu, bangunan baru disebut berdiri di atas siring lama tanpa pembongkaran pondasi secara menyeluruh. Campuran semen dan pasir juga diduga tidak sesuai standar. Dinding saluran tidak diplester dan tidak memperhitungkan kondisi tanah serta potensi erosi di sekitar aliran.
Akibat kerusakan tersebut, air irigasi tidak mengalir ke sawah dan kembali ke sungai.
Petani Lubuk Genting, Yanto (53), mengatakan sekitar 25 hektare sawah mengalami kekeringan sejak proyek dihentikan pada akhir Desember 2025.
“Sejak proyek itu berhenti, sawah tidak bisa dialiri air. Kami tidak bisa menggarap lahan,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Ia mengaku tidak mengetahui penyebab penghentian pekerjaan. Namun dampaknya langsung dirasakan petani karena Desember seharusnya sudah memasuki musim tanam.
Hal senada disampaikan Zulkarnain (55). Ia menyebut proyek tersebut justru merugikan petani karena puluhan hektare sawah terbengkalai.
“Seharusnya padi sudah berusia dua bulan. Sekarang untuk membajak saja susah,” katanya.
Zulkarnain juga menyebut di bagian hulu irigasi, sekitar 12 meter saluran ambruk sehingga air tidak dapat mengalir ke area persawahan. Ia menduga kontraktor tidak membangun ulang pondasi dan hanya menimpa bangunan lama dengan tulangan besi berukuran kecil.
Kepala Desa Tanjung Bulan, Tarzanudin, mengatakan sekitar 63 hektare sawah seharusnya mendapat aliran air dari irigasi tersebut. Sebelum proyek berjalan, petani bisa panen dua kali dalam setahun.
“Sekarang petani tidak bisa menggarap sawah. Ada sekitar 150 kepala keluarga yang menggantungkan hidup di ataran Lubuk Genting,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah desa telah mengingatkan pelaksana proyek agar memperhatikan waktu tanam dan mengantisipasi kekeringan, termasuk dengan mengalirkan air menggunakan pipa. Namun hingga proyek dihentikan, upaya tersebut tidak terealisasi.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki irigasi agar petani tidak terus mengalami kerugian dan ancaman gagal tanam dapat dihindari.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor maupun instansi terkait mengenai penyebab ambruknya bangunan dan kelanjutan proyek tersebut. (KPB)

