RELUNG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai menunjukkan sinyal mengkhawatirkan. Sepanjang Mei 2026, jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi mencapai 708 titik, angka tertinggi untuk periode bulan Mei dalam kurun waktu 11 tahun terakhir.
Data tersebut sekaligus memecahkan rekor sebelumnya yang tercatat pada Mei 2025 sebanyak 523 titik panas. Bahkan, lonjakan hotspot tahun ini hampir tiga kali lipat dibandingkan Mei 2020 yang hanya mencatat 291 titik.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan peningkatan signifikan itu menjadi perhatian serius karena terjadi bersamaan dengan mulai masuknya musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan.
“Sepanjang Mei 2026 terdapat 708 hotspot yang terpantau. Ini menjadi jumlah tertinggi untuk bulan Mei sejak 2015,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Lonjakan titik panas paling mencolok terjadi pada 31 Mei 2026, ketika satelit mendeteksi sebanyak 166 hotspot dalam satu hari. Kondisi tersebut menjadi indikator meningkatnya kerawanan kebakaran lahan di sejumlah daerah.
Menurut Sudirman, berkurangnya intensitas hujan dan meningkatnya suhu udara menjadi faktor utama yang memicu kemunculan hotspot dalam jumlah besar. Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut sebagian wilayah Sumsel mulai mengalami curah hujan rendah.
Akibatnya, vegetasi dan lapisan permukaan tanah menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar ketika terjadi aktivitas pembakaran atau percikan api di lapangan.
“Memasuki musim kemarau, potensi hotspot memang meningkat. Karena itu seluruh daerah, terutama yang rawan karhutla, harus meningkatkan kewaspadaan,” katanya.
Dari hasil pemantauan, Kabupaten Lahat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak selama Mei 2026, yakni mencapai 164 titik. Posisi kedua ditempati Kabupaten Muara Enim dengan 145 titik panas.
Kedua daerah tersebut selama ini dikenal sebagai wilayah yang memiliki kawasan lahan cukup luas dan kerap menghadapi ancaman kebakaran saat musim kemarau tiba.
Meski demikian, Sudirman menegaskan bahwa hotspot yang terdeteksi satelit belum tentu menunjukkan adanya kebakaran. Titik panas hanya menjadi indikator awal yang harus diverifikasi langsung oleh petugas di lapangan.
“Hotspot bukan berarti pasti terjadi kebakaran. Karena itu setiap titik yang muncul harus dicek untuk memastikan apakah benar ada aktivitas pembakaran atau tidak,” jelasnya.
Untuk memperkuat pengawasan, BPBD Sumsel saat ini mengoperasikan dua helikopter patroli udara yang secara rutin memantau kondisi wilayah rawan karhutla. Hasil pemantauan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim darat untuk melakukan pengecekan dan penanganan lebih cepat apabila ditemukan indikasi kebakaran.[THQ]

