RELUNG.ID- Kabupaten Empat Lawang, salah satu daerah penghasil kopi robusta terbesar di Provinsi Sumatera Selatan, hingga kini belum mampu memaksimalkan potensi hilirisasi komoditas unggulannya.
Sebanyak 80 persen hasil panen biji kopi dari petani lokal justru langsung dijual ke Provinsi Lampung dalam bentuk mentah tanpa sempat diolah di daerah asal.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang, Robinson, mengungkapkan bahwa mayoritas hasil panen kopi petani dibeli oleh pedagang pengumpul atau tauke. Mereka langsung mengirimkannya ke Lampung dalam bentuk green bean atau biji kopi mentah.
“Hilirisasi kopi di Empat Lawang itu baru sebatas bubuk skala kecil. Sekitar 80 persen kopi kita dijual langsung dalam bentuk biji ke Lampung,” ujar Robinson, Selasa (7/5/2025).
Menurutnya, keterbatasan fasilitas pengolahan dan minimnya pemahaman petani mengenai nilai tambah dari produk olahan menjadi kendala utama dalam pengembangan hilirisasi kopi di wilayah tersebut.
Ironisnya, meski dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi robusta di Sumsel, Empat Lawang justru belum mampu memenuhi kebutuhan kopi bubuk di pasarnya sendiri. Ketersediaan bahan baku lokal sangat terbatas karena sebagian besar telah dikirim ke luar daerah.
“Karena banyak kopi yang dikirim ke Lampung, produksi kopi bubuk lokal belum mencukupi permintaan di Empat Lawang sendiri,” jelasnya.
Robinson juga menyoroti persoalan kualitas panen. Sebagian besar petani masih mempraktikkan metode panen “petik pelangi”, yaitu mencampur biji kopi matang dan belum matang dalam satu kali petikan.
Padahal, sistem panen “petik merah” atau hanya memetik biji yang benar-benar matang dinilai penting untuk meningkatkan kualitas dan harga jual kopi.
“Kalau panennya masih campur seperti itu, tentu kualitasnya kurang bagus dan harganya juga tidak maksimal,” tambahnya.
Kabupaten Empat Lawang sendiri memiliki luas lahan perkebunan kopi lebih dari 52.000 hektare yang tersebar di 10 kecamatan. Dengan potensi sebesar itu, pemerintah daerah diharapkan lebih serius dalam membangun industri hilir kopi melalui penyediaan fasilitas, pelatihan petani, hingga promosi kopi lokal ke tingkat nasional maupun internasional.
“Kalau nilai tambah bisa dinikmati langsung di Empat Lawang, tentu kesejahteraan petani juga akan meningkat,” pungkas Robinson.[SLM]

