RELUNG.ID – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat dan korporasi di Sumatera Selatan agar tidak lagi menggunakan api untuk membuka atau membersihkan lahan.
Praktik land clearing dengan cara membakar dinilai berisiko memperluas karhutla sekaligus mengancam kesehatan masyarakat.
Peringatan itu disampaikan Raja Juli di tengah musim kemarau yang masih menyimpan potensi kerawanan karhutla di Sumsel.
Ia menyoroti masih adanya pihak yang memilih metode pembukaan lahan dengan alasan lebih murah, meski risikonya jauh lebih besar ketika api tidak terkendali.
“Ini kami sampaikan kepada para petani, pada masyarakat biasa, maupun korporasi. Korporasi yang masih nakal yang masih menggunakan cara-cara lama, cara-cara yang dianggap murah untuk melakukan land clearing, tapi memiliki risiko besar terhadap kesehatan masyarakat,” ujar Raja Juli di Palembang, Selasa (15/9/2026).
Menurut Raja Juli, ancaman karhutla belum dapat dianggap selesai. Berdasarkan prediksi cuaca, kondisi rawan diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober atau November 2026.
Artinya, pemerintah dan masyarakat masih memiliki waktu panjang untuk mencegah munculnya kebakaran baru sebelum hujan alami kembali turun. Karena itu, kedisiplinan menjadi salah satu kunci selain kesiapan personel dan peralatan pemadaman.
“Kita butuh kedisiplinan untuk tidak membuka lahan, membuka kebun dengan cara membakar. Ini kami sampaikan kepada para petani, kepada masyarakat biasa, maupun korporasi,” tegasnya.
Raja Juli memastikan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi karhutla. Namun, menurutnya, upaya pemerintah akan sulit maksimal jika masih ada pihak yang justru memicu munculnya titik api melalui pembukaan lahan dengan pembakaran.
“Pesan kami kepada seluruh masyarakat Sumatera Selatan, yakinlah bahwa pemerintah terus bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan kolaboratif dan sinergis untuk melindungi masyarakat dari karhutla,” tegasnya. (THQ)

