RELUNG.ID – Di tengah derasnya arus permainan digital, sebuah permainan papan warisan masa lalu kembali diperkenalkan kepada generasi muda Sumatera Selatan.
Namanya Cuki, permainan strategi yang dipercaya telah berkembang dalam lingkungan budaya Palembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Upaya menghidupkan kembali permainan tradisional tersebut dilakukan UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa melalui Workshop Permainan Cuki: Reaktualisasi Cuki, Memperkuat Jati Diri Budaya Sumatera Selatan, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus mengenalkan kembali Cuki kepada masyarakat. Permainan yang dahulu berkembang di lingkungan bangsawan Palembang itu kini menghadapi tantangan zaman karena semakin jarang dimainkan dan dikenal generasi muda.
Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, Anang Purnomo Kurniawan, mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, membuka kegiatan tersebut.
Salah satu pelestari Cuki, Kemas Muhammad Yunus, dalam pemaparannya bertajuk “Permainan Cuki: Cuki Warisan Kearifan Lokal” menjelaskan bahwa Cuki bukan sekadar permainan papan.
Di dalamnya terdapat unsur strategi, ketelitian, kesabaran, hingga kemampuan membaca langkah lawan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang terkandung dalam permainan tradisional tersebut.
“Cuki dimainkan menggunakan sejumlah perlengkapan khusus, seperti papan permainan, biji Cuki, dadu yang dikenal dengan sebutan pare, cawan, serta penanda pemain,” katanya.
Permainan tersebut dipercaya telah berkembang di lingkungan masyarakat Palembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
“Jejak keberadaannya juga dapat dilihat dari sejumlah artefak yang kini menjadi koleksi museum,” terangnya.
Salah satunya berupa buah Cuki berbahan batu yang ditemukan di kawasan Sungai Musi. Artefak tersebut kini tersimpan di Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa dan Museum Kota Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Sementara itu, Pelestari Cuki lainnya, Achmad Hidayat, juga turut memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan permainan tradisional tersebut agar tidak berhenti sebagai artefak sejarah.
Upaya membawa Cuki ke era digital turut dilakukan melalui pengembangan aplikasi GO CUKI oleh mahasiswa kreatif Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri).
“Kami harap dengan digitalisasi tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Cuki kepada generasi yang lebih akrab dengan perangkat teknologi. Dengan begitu, Cuki tidak hanya dikenang sebagai permainan tradisional masa lalu, tetapi dapat menjadi sarana edukasi budaya yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Amarullah mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap Cuki mulai menunjukkan perkembangan.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Pada 2025, Cuki masih menghadapi tantangan karena belum banyak dikenal masyarakat.
Namun, pada 2026 antusiasme peserta meningkat. Pendaftaran workshop yang dibuka pada 4–14 September 2026 bahkan berhasil memenuhi kuota sebanyak 130 peserta.
Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari guru, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah hingga komunitas budaya.
“Ini sinyal bahwa permainan tradisional seperti Cuki masih memiliki ruang untuk kembali hadir di tengah masyarakat, asalkan dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman,” tutupnya. (DSK)

