RELUNG.ID – Bentrokan saat aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Cipayung di depan Markas Polda Sumsel, Selasa (13/10/2026), menyisakan sejumlah pertanyaan.
Pergerakan sekelompok massa berpakaian hitam dan mengenakan masker sesaat sebelum bentrokan pecah kini menjadi salah satu hal yang perlu ditelusuri. Insiden tersebut mengakibatkan sejumlah mahasiswa dan dua jurnalis menjadi korban penganiayaan hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Berdasarkan video yang beredar, massa Aliansi Mahasiswa Cipayung lebih dahulu berkumpul di depan Mapolda Sumsel untuk menyampaikan aspirasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tak lama kemudian, sekelompok massa berpakaian hitam dan mengenakan masker terlihat bergerak mendekati lokasi aksi.
Dari sejumlah video yang beredar, salah satu rekaman yang diterima redaksi memperlihatkan pergerakan kelompok berbaju hitam tersebut beriringan dengan aparat kepolisian.
Mereka terlihat bergerak dari arah gerbang Mapolda Sumsel menuju simpang empat lampu lalu lintas (traffic light), dengan arah pergerakan yang diduga mengarah ke lokasi massa aksi Cipayung. Pergerakan tersebut terjadi sesaat sebelum bentrokan pecah.
Rekaman itu memunculkan pertanyaan mengenai konteks pergerakan kelompok berbaju hitam, tujuan mereka menuju lokasi aksi, serta bagaimana situasi pengamanan berlangsung saat itu.

Massa Berbaju Hitam Diduga Memprovokasi
Dalam perkembangan berikutnya, kelompok berbaju hitam terlihat terlibat ketegangan dengan mahasiswa yang tengah menyampaikan aspirasi. Situasi kemudian memanas hingga berujung bentrokan.
Pemimpin Redaksi Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel, Prawira Maulana, menilai pergerakan kelompok tersebut patut didalami karena diduga terorganisir dan berujung pada provokasi serta kekerasan.
“Kami menilai pergerakan massa berbaju hitam ini terorganisir, berdalih membagikan masker, tapi tujuannya untuk memprovokasi terhadap demonstrasi dan dengan agenda kekerasan,” kata Prawira.
Menurutnya, dugaan tersebut perlu ditelusuri melalui rekaman video dan pola mobilisasi massa di lapangan. Ia juga menyoroti pengamanan yang dinilainya tidak menunjukkan upaya serius untuk mencegah kekerasan ketika situasi mulai memanas.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari tuntutan agar kepolisian mengungkap secara terang rangkaian kejadian, termasuk siapa yang menginisiasi pergerakan massa, apa tujuan kehadiran mereka, dan apakah terdapat pihak lain yang mengoordinasikan kegiatan tersebut.
Seluruh dugaan itu masih perlu diuji melalui penyelidikan dan bukti-bukti yang tersedia.
Bentrokan tersebut tidak hanya mengakibatkan mahasiswa menjadi korban. Dua jurnalis yang berada di lokasi untuk meliput aksi juga mengalami kekerasan.
Wartawan Tribun Sumsel, Rahmat Kurniawan, bersama Mulyadi dari PalTV, dilaporkan menjadi korban penganiayaan. Keduanya dipukul meski telah berulang kali menegaskan bahwa mereka merupakan wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik meliput aksi terkait karhutla.
Tak hanya jurnalis, kelompok berbaju hitam juga dilaporkan melakukan pemukulan terhadap mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasi.
Oleh sebab itu, Prawira mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya bentrokan dan kekerasan terhadap jurnalis.
“Karena itu, kami mendesak agar kepolisian dengan serius menegakkan hukum dalam perkara ini, dan menyeret aktor intelektual atas kejadian bentrok dua massa yang berujung penganiayaan dua jurnalis di Sumsel,” tegasnya.
Prawira menilai pengungkapan kasus ini semestinya dapat dilakukan dengan menelusuri bukti-bukti yang tersedia, termasuk rekaman video yang memperlihatkan wajah sejumlah orang yang diduga terlibat.
Ia juga menegaskan bahwa tindakan menghalangi kerja jurnalistik merupakan persoalan serius karena kebebasan pers dan perlindungan terhadap wartawan dijamin oleh undang-undang.
Pihaknya memastikan akan terus mengawal proses hukum agar para pelaku ditangkap dan dimintai pertanggungjawaban.
“Saat ini kasus tersebut telah dilaporkan ke Polda Sumsel, dan kondisi Rahmat serta Mulyadi tengah mendapatkan perawatan. Semoga keduanya cepat sembuh dan menjalankan tugas jurnalistiknya kembali,” tutupnya.

Polda Sumsel Janji Investigasi dan Memburu Pelaku
Bentrokan antara kelompok mahasiswa dan kelompok massa lainnya di depan Mapolda Sumsel mendapat perhatian Kapolda Sumsel, Irjen Pol Rony Samtana, Selasa (13/10/2026).
Rony mengatakan, kepolisian akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap peristiwa tersebut. Pernyataan itu disampaikannya saat konferensi pers di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Selasa malam.
“Terkait peristiwa tersebut kami akan investigasi secara menyeluruh. Ini merupakan bentuk keprihatinan kita semua khususnya kami Polda Sumsel,” kata Rony.
Selain investigasi, Polda Sumsel akan melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi dan memproses pihak-pihak yang bertanggung jawab atas bentrokan tersebut.
“Akan kita evaluasi, investigasi secara menyeluruh. Kita lakukan penyelidikan intensif, mencari para pelaku untuk bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi,” jelasnya.
Rony juga mengungkapkan bahwa polisi telah mengamankan seorang pria bernama Riski Kurniawan yang diduga sebagai provokator dalam bentrokan antara Aliansi Mahasiswa Cipayung dan kelompok massa lainnya.
Menurut Rony, saat diamankan, pria tersebut kedapatan membawa sebilah pisau dan satu senjata tajam berukuran panjang dengan gagang pipa. Ia menyebut yang bersangkutan telah diamankan di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut. (tim)

