RELUNG.ID– Sebanyak 25 hingga 30 kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal setelah kebakaran melanda permukiman di Jalan HM Ryacudu, Lorong Sabar, Kelurahan 8 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Palembang, Senin (19/10/2026) sore.
Kebakaran tersebut menghanguskan 15 rumah dan menyebabkan enam rumah lainnya terdampak. Sehari setelah kejadian, warga masih berupaya membersihkan puing-puing bangunan sekaligus mencari barang berharga yang mungkin bisa diselamatkan.
Sekretaris Lurah 8 Ulu, Hartati, mengatakan total terdapat 21 rumah yang terdampak kebakaran tersebut.
“Totalnya ada 21 rumah. Sebanyak 15 rumah ludes, enam terdampak, dan 25 sampai 30 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal mereka,” kata Hartati saat ditemui di lokasi kebakaran, Selasa (20/10/2026) sore.
Pantauan di lokasi, sejumlah warga terlihat membersihkan puing-puing seng dan sisa bangunan yang terbakar. Mereka menyisir reruntuhan untuk mencari barang maupun dokumen penting yang masih bisa diselamatkan.
Petugas Dinas Kebersihan Kota Palembang turut membantu membersihkan puing-puing bangunan dan mengangkutnya menggunakan truk. Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Palembang membuka layanan kesehatan bagi warga terdampak.
Di antara warga yang kehilangan tempat tinggal, sejumlah perempuan masih terlihat syok. Beberapa di antaranya menangis saat memandangi reruntuhan rumah yang selama ini mereka tempati.
“Aku belum percaya, Dek. Masih syok nian, belum biso nerimo. Dak pacak ngomong apo-apo lagi aku,” ujar seorang korban sambil menyeka air matanya dengan jilbab biru.
Tiga Bedeng Kayu Ikut Hangus
Sina (70), salah seorang korban kebakaran, hanya bisa pasrah melihat anggota keluarganya membersihkan puing-puing rumah yang telah lama ditempatinya. Baginya, rumah tersebut menyimpan banyak kenangan yang kini ikut musnah dilalap api.
“Banyak kenangannya, Nak, di rumah ini. Sekarang sudah habis terbakar bersama barang-barang yang ada di dalam,” katanya.
Selain rumah tinggal, tiga bedeng kayu miliknya yang berada tepat di belakang rumah juga ikut hangus terbakar. Sina menduga api cepat merambat karena bangunan di kawasan tersebut sebagian besar terbuat dari kayu.
Menurut Sina, api pertama kali muncul dari bedeng di belakang rumahnya. Saat kejadian, ia sedang berada di luar rumah, tidak jauh dari lokasi.
“Saat kejadian itu saya kebetulan di luar rumah, tapi tidak jauh. Tiba-tiba dengar teriakan kebakaran,” ujarnya.
Mendengar teriakan tersebut, Sina langsung berlari menuju rumah untuk memastikan lokasi kebakaran. Namun, api dengan cepat merambat ke rumahnya hingga ia tidak sempat menyelamatkan barang-barang.
“Saya tidak sempat lagi berpikir menyelamatkan barang-barang. Yang saya cari cucu saya dan keselamatan anggota keluarga. Alhamdulillah, semuanya sudah keluar rumah saat itu,” katanya.
Kini, Sina bersama keluarganya hanya bisa berharap mendapat bantuan untuk memenuhi kebutuhan setelah kehilangan tempat tinggal dan seluruh barang miliknya.
Ia juga berharap pemerintah membantu mempermudah pengurusan kembali dokumen penting yang ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.
“Ya, saya cuma bisa pasrah, Nak. Tak sempat satu pun barang yang bisa diselamatkan, hanya baju di badan yang tersisa,” ujarnya.
“Semua dokumen juga terbakar. Saya hanya bisa berharap semua dipermudah untuk pengurusan dokumen-dokumen yang terbakar,” tambah Sina.[DNP]

