RELUNG.ID – Aksi mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara Sumatera Selatan (BEM NUSS) memanas. Lantaran tak ditemui Gubernur Sumsel, Herman Deru.
Tak hanya itu, mahasiswa juga menilai penjelasan terkait penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel, Edward Chandra terlalu normatif. Karena itu, mahasiswa berencana untuk menyegel kantor Pemprov Sumsel.
Berdasarkan pantauan, penyegelan tersebut dilakukan secara simbolis dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Kantor Ini Disegel Oleh Rakyat” di halaman kantor Gubernur Sumsel.
Koordinator BEM NUSS, Ilham, mengatakan mahasiswa mendatangi kantor gubernur untuk menagih komitmen pemerintah sekaligus meminta dialog langsung dengan Herman Deru mengenai langkah konkret penanganan karhutla.
Namun, rencana dialog itu tidak terlaksana karena gubernur tidak berada di tempat. Penjelasan yang disampaikan Sekretaris Daerah Sumsel Edward Candra juga dinilai belum memuaskan massa aksi.
“Seharusnya hari ini kami berdialog dan mencari langkah konkret dalam penanganan karhutla di Provinsi Sumatera Selatan. Namun, Gubernur Sumatera Selatan tidak ada di tempat,” ujar Ilham.
Menurut dia, ketidakhadiran gubernur memperkuat kekecewaan mahasiswa terhadap kepemimpinan Herman Deru, khususnya dalam menangani karhutla dan kabut asap. BEM NUSS pun menyampaikan mosi tidak percaya terhadap gubernur.
Ilham menegaskan, aksi tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan di Sumatera Selatan. Mereka mendesak pemerintah tidak hanya menyampaikan penjelasan, tetapi juga mengambil langkah yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak.
Mahasiswa juga mengancam kembali menggelar aksi dengan jumlah massa lebih besar apabila kondisi karhutla dan kabut asap tidak membaik.
“Kalau kondisi tidak membaik, tanggal 28 Oktober kami datang lagi ke sini membawa massa lebih banyak lagi,” kata Ilham.
Menanggapi hal tersebut, Sekda Sumsel menjelaskan Pemprov Sumsel melalui satuan tugas (satgas) terpadu terus melakukan upaya pemadaman, baik melalui jalur udara maupun darat. Menurutnya, penanganan dilakukan setiap hari, terutama di wilayah yang rawan kebakaran.
Ia menjelaskan, Gubernur Sumsel juga telah mengunjungi sejumlah posko karhutla, termasuk di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Ogan Komering Ilir (OKI). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi posko, memberikan pengarahan, serta memastikan kesiapan petugas di lapangan.
“Beliau sempat bermalam di posko di Kabupaten OKI, yang menjadi salah satu wilayah dengan titik panas dan kebakaran terbanyak,” ujar Edward.
Dalam penanganan karhutla, Pemprov Sumsel mengandalkan dua metode utama, yakni pemadaman melalui udara dan operasi darat.
Edward menyebutkan, sebanyak lima helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disiagakan di Lanud untuk melakukan pemadaman dari udara. Operasi ini terutama menyasar lokasi kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Sementara itu, pemadaman melalui jalur darat dilakukan di wilayah yang dapat diakses petugas.
Menurut Edward, lebih dari 12.000 personel dari berbagai unsur dilibatkan dalam penanganan karhutla. Mereka terdiri atas personel TNI, Polri, BPBD provinsi dan kabupaten/kota, Satpol PP, serta relawan perusahaan dan masyarakat peduli api.
“Personel tersebut disebar ke sejumlah wilayah rawan kebakaran untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas,” terangnya.
Meski demikian, kebakaran masih terjadi setiap hari. Ia mencontohkan, pada hari sebelumnya terdapat sekitar 200 hektare lahan yang terbakar. Sebagian lahan berhasil dipadamkan melalui operasi darat maupun udara.
Namun, proses pemadaman tidak selalu berjalan mudah. Keterbatasan waktu operasi, sulitnya memperoleh sumber air, serta kondisi lokasi menjadi sejumlah kendala yang dihadapi petugas.
Selain pemadaman, pemerintah juga mengupayakan penanganan kabut asap melalui penggunaan dry ice. Uji coba metode tersebut dilakukan di Sumsel dan telah diperpanjang hingga 26 Oktober 2026. Gubernur Sumsel, lanjutnya, juga telah meminta agar pelaksanaan operasi tersebut kembali diperpanjang selama 20 hari ke depan.
Menurut Edward, penggunaan dry ice ditujukan untuk membantu mengangkat asap yang tertahan di dekat permukaan tanah. Wilayah yang menjadi sumber asap antara lain Kabupaten OKI, Ogan Ilir (OI), Banyuasin, serta kawasan sekitar Kota Palembang.
“Penaburan dry ice dilakukan dari udara untuk memengaruhi lapisan udara panas sehingga asap di bawahnya dapat terangkat. Operasi tersebut dilaksanakan dua kali sehari,” ujarnya.
Meski demikian, efeknya hanya berlangsung selama beberapa jam sehingga kabut asap dapat kembali muncul ketika kondisi atmosfer berubah.
Pemprov Sumsel juga menjalankan operasi modifikasi cuaca dengan menaburkan bahan untuk merangsang pembentukan hujan pada awan yang dinilai memungkinkan. Upaya ini diharapkan membantu mengurangi dampak kebakaran dan mempercepat penanganan di sejumlah wilayah.
Edward menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak kabut asap.
Ia mengatakan, Gubernur Sumsel telah menginstruksikan agar pelayanan kesehatan bagi warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap diberikan tanpa dipungut biaya.
Edward meminta masyarakat melaporkan apabila menemukan pelayanan kesehatan terkait ISPA yang masih dikenakan biaya, agar dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah.
“Kalau ada laporan warga yang terkena ISPA dipungut biaya, silakan disampaikan kepada kami. Itu menyalahi apa yang telah ditegaskan oleh Pak Gubernur,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Edward menegaskan bahwa Pemprov Sumsel tidak tinggal diam dalam menangani karhutla. Ia menyebut operasi pemadaman terus dilakukan setiap kali ditemukan kebakaran, meskipun masih terdapat sejumlah kendala di lapangan.
Ia juga menyoroti dugaan pelanggaran berupa penanaman kelapa sawit di lahan yang sebelumnya terbakar. Menurutnya, dugaan pelanggaran semacam itu perlu dilaporkan agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. (DSK)

