RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 tidak hanya menghanguskan ratusan ribu hektare lahan di Sumatera Selatan (Sumsel), tetapi juga mengancam perekonomian daerah. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan dampak kerugian ekonomi atau penurunan produk domestik regional bruto (PDRB) Sumsel akibat karhutla mencapai Rp29,07 triliun.
Angka tersebut merupakan bagian dari potensi kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla secara nasional yang diperkirakan mencapai Rp359,58 triliun hingga Rp565,03 triliun.
Dalam rilis yang diterima redaksi pada Senin (2/11/2026), CELIOS mengungkapkan estimasi tersebut berdasarkan data kumulatif karhutla yang diakses hingga 20 Oktober 2026. Perhitungan mencakup kerugian aset fisik, aktivitas ekonomi, serta biaya kesehatan masyarakat.
Berdasarkan kajian tersebut, nilai PDRB awal Sumsel tercatat sebesar Rp394,44 triliun. Dampak karhutla diperkirakan menggerus nilai ekonomi tersebut hingga Rp29,07 triliun.
Selain kehilangan potensi aktivitas ekonomi, Sumsel juga terancam kehilangan penerimaan pajak bersih daerah sebesar Rp101,14 miliar. Angka tersebut berasal dari nilai pajak bersih awal yang diperkirakan mencapai Rp2,16 triliun.
Ancaman tersebut sejalan dengan luas kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, luas lahan terbakar di provinsi ini mencapai 170.775,03 hektare. Sumsel pun menempati posisi kelima provinsi dengan luas karhutla terbesar di Indonesia.
Papua Selatan menjadi daerah dengan luas kebakaran tertinggi, yakni 319.119,68 hektare. Disusul Kalimantan Barat 277.127,29 hektare, Nusa Tenggara Timur 223.192,97 hektare, dan Kalimantan Tengah 220.329,68 hektare.
Secara nasional, total luas lahan terbakar mencapai 1,92 juta hektare. Sepuluh provinsi dengan luas kebakaran terbesar menyumbang sekitar 86 persen dari total luas karhutla di Indonesia.
CELIOS mencatat, dampak ekonomi karhutla secara nasional mencapai Rp340,38 triliun atau setara 2,69 persen dari produk domestik bruto (PDB). Kerugian tersebut berasal dari hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi. Selain itu, potensi penerimaan pajak bersih daerah yang hilang diperkirakan mencapai Rp4,06 triliun.
Sektor kehutanan dan penebangan kayu menyumbang sekitar 77 persen dari total kerugian ekonomi, disusul sektor industri pengolahan. Gangguan pada sektor-sektor tersebut turut memengaruhi aktivitas produksi dan sektor ekonomi turunannya.
Dampak karhutla juga merembet ke sektor kesehatan. CELIOS memperkirakan biaya kesehatan bagi masyarakat yang terdiagnosis penyakit akibat karhutla mencapai Rp19,20 triliun. Jika mencakup masyarakat yang terdiagnosis dan mengalami gejala, total biaya kesehatan diperkirakan mencapai Rp224,65 triliun.
Kajian tersebut juga memperkirakan potensi kehilangan penerimaan pajak daerah dapat memperpanjang tekanan ekonomi. Di tengah keterbatasan anggaran daerah, biaya penanganan kebakaran berpotensi mengurangi ruang fiskal untuk kebutuhan pembangunan lainnya.
CELIOS memperkirakan efek perlambatan ekonomi daerah akibat karhutla dapat terasa hingga dua tahun ke depan. Karena itu, dampak kebakaran tidak cukup dilihat dari luas lahan yang hangus, tetapi juga dari kerugian ekonomi, kesehatan, dan penerimaan daerah yang ditimbulkannya.[YKP]

