RELUNG.ID- Di tengah lebatnya hutan Papua Barat, sekelompok perempuan adat tengah membalik nasib lewat inovasi berbasis kearifan lokal. Dipimpin oleh Mama Siti (52), mereka menjadikan buah pala warisan leluhur yang sakral sebagai komoditas bernilai tinggi, bahkan kini dilirik industri parfum dunia.
Berbasis di Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, kelompok ini terdiri dari 118 perempuan yang terlibat aktif dalam proses pengolahan pala. Mulai dari pembersihan, pemisahan biji dan daging buah, hingga pengeringan dengan sinar matahari dilakukan secara telaten dan kolektif.
Para pria biasanya bertugas memanjat dan memanen buah yang telah matang dari pohon-pohon tua di hutan.
“Pohon pala adalah kehidupan bagi kami. Ia ibarat perwujudan perempuan, dan tabu bagi kami untuk menebangnya,” ujar Mama Siti, yang juga menjadi dewan pengawas koperasi petani perempuan adat.
Kepercayaan dan tradisi lokal menjadi fondasi kuat dalam menjaga keberlanjutan panen. Dua bulan sebelum musim panen, warga menggelar upacara adat bernama wewowo, di mana pohon-pohon pala “dipakaikan kebaya” sebagai simbol larangan memetik buah sebelum waktunya.
Namun, nilai jual yang fluktuatif dan panen yang hanya terjadi dua kali setahun menjadi tantangan besar. Banyak petani hanya bergantung pada pala sebagai pekerjaan musiman.
Melihat situasi itu, organisasi Kaleka menggagas inisiatif Wewowo Lestari, sebuah program berbasis komunitas yang melatih para perempuan mengolah pala secara berkelanjutan dengan standar tinggi.
Pelatihan mencakup teknik pemrosesan, penggunaan solar dryer, hingga standarisasi mutu yang meningkatkan nilai jual pala hingga 13–40 persen.
Asisten Badan Eksekutif Kaleka, Venticia Hukom, mengungkapkan bahwa pihaknya kini menggandeng laboratorium Association Francaise des Dieteticiens Nutritionnistes (AFDN) asal Prancis untuk mengembangkan pala Papua menjadi bahan baku parfum.
Penelitian berhasil meningkatkan oil extraction rate pala dari 1 persen menjadi 3,5 persen, menjadikannya layak untuk produk parfum dan kosmetik berkualitas tinggi.
“Dulu pala Papua sering diabaikan karena kadar minyaknya rendah. Sekarang, dengan teknologi dan pendekatan berbasis data, pala ini dilirik brand besar seperti Hermes dan Chanel,” ungkap Venticia.
Dampak positif inisiatif ini bukan hanya pada peningkatan pendapatan hingga 40 persen lebih tinggi dibanding menjual ke tengkulak tetapi juga menjaga kelestarian hutan. Melalui koperasi Mery Tora Qpohi, petani kini menjual pala langsung ke pasar yang lebih luas.
Tak hanya minyak atsiri, mereka juga mengolah bagian lain dari pala seperti daging buah menjadi sirup dan manisan yang dijual di pasar lokal hingga kafe-kafe di Fakfak. Langkah ini menekan limbah dan meningkatkan nilai tambah komoditas.
Mama Siti menegaskan, “Kami tak hanya menanam dan memanen, tapi juga menjaga warisan. Pala bukan sekadar hasil bumi, ia adalah bagian dari hidup kami. Kini kami bisa menjaga hutan sekaligus memperbaiki ekonomi keluarga.”
Melalui Wewowo Lestari, perempuan adat Papua Barat tak hanya menjaga tradisi, tapi juga memimpin perubahan. Dengan pendekatan ekonomi restoratif, mereka membuktikan bahwa pelestarian alam dan inovasi bisa berjalan beriringan.[YKP]

