RELUNG.ID – Trase bersama Auriga mengeluarkan analisis terbarunya yang berkaitan dengan deforestasi hingga berakibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia.
Berdasarkan analisisnya, hal ini dipengaruhi dengan permintaan sawit baik pasar domestik maupun ekspor.
Peneliti Trase, Adelina Chandra, mengatakan transparansi menjadi semakin penting seiring berkembangnya pasar minyak sawit dalam negeri. Menurutnya, keterbukaan informasi mengenai pembeli domestik dan lokasi pengadaan bahan baku perlu diperkuat agar dapat diakses publik.
“Untuk memperkuat konservasi hutan, diperlukan pelaporan yang lebih baik mengenai pembeli domestik serta lokasi-lokasi pengadaannya yang dapat diakses publik untuk rantai pasok domestik,” kata Adelina dalam keterangan yang dirilis pada 13 Oktober 2026.
Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai rekor 47 juta metrik ton pada 2024. Lebih dari separuh produksi tersebut dikonsumsi di dalam negeri, menjadi proporsi tertinggi sepanjang sejarah, yang turut didorong oleh meningkatnya kebutuhan untuk produksi biodiesel.
Sementara itu, India masih menjadi tujuan ekspor terbesar minyak sawit Indonesia. Pakistan menempati posisi kedua pada 2024 setelah menggeser China.
Dari sisi perusahaan, empat grup besar, yakni Royal Golden Eagle (RGE), Sinar Mas, Musim Mas, dan Wilmar, menguasai 52 persen volume ekspor minyak sawit Indonesia pada 2024.
Meski produksi minyak sawit mencapai rekor tertinggi, deforestasi akibat ekspansi perkebunan sawit masih berada jauh di bawah tingkat historisnya.
Trase mencatat deforestasi akibat perkebunan sawit mencapai sekitar 32 ribu hektare pada 2024. Angka tersebut turun 81 persen dibandingkan rata-rata tahunan periode 2008–2015 yang mencapai 166.544 hektare.
Namun, penurunan tersebut tidak berarti ancaman terhadap hutan telah berakhir. Ribuan hektare hutan masih dibuka setiap tahun untuk ekspansi perkebunan sawit, dengan pergeseran lokasi deforestasi yang semakin terlihat di Kalimantan dan Papua.
Pada 2025, Kalimantan menyumbang 56 persen dari total deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan sawit di Indonesia.
Sementara itu, deforestasi akibat sawit di Papua meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 3.600 hektare pada 2024 menjadi lebih dari 7.300 hektare pada 2025.
“Untuk ekspansi perkebunan sawit di Sumatera telah menurun lebih dari 90 persen dibandingkan puncak historisnya,” kata Timer Manurung, Direktur Eksekutif Auriga.
Kenaikan deforestasi di sejumlah wilayah tersebut menunjukkan bahwa pemantauan dan kebijakan perlindungan hutan masih perlu diperkuat. Terlebih, pembukaan lahan di Papua berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan yang masih tersisa.
Sebagaimana ditunjukkan oleh pemetaan area terbakar yang dilakukan oleh MapBiomas Indonesia, di antara semua konsesi ekstraktif, konsesi sawit masih mencatat jumlah kebakaran terbanyak.
“Jadi kami menilai Industri sawit masih perlu melakukan perbaikan,” tutupnya. (ril)

