RELUNG.ID- Seiring kumandang azan Ashar pada Kamis (2/10/2025) sore, waktu emas atau golden time penyelamatan korban reruntuhan Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, resmi berakhir.
Tak ada lagi korban yang ditemukan hidup setelah 72 jam pasca-musala ponpes itu ambruk.
Santri bernama Syaiful Rosi Abdillah (13) menjadi korban terakhir yang berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup.
Remaja asal Bangkalan yang baru empat bulan mondok itu dievakuasi dari balik reruntuhan pada Rabu (1/10), sehari setelah rekannya, Taufan Saputra Dewa (17), diselamatkan.
Namun kondisi Rosi sangat memprihatinkan. Selama dua malam ia terjebak tanpa makan, minum, maupun tidur.
Tubuhnya penuh luka parah hingga dokter terpaksa mengambil keputusan berat: mengamputasi lengan kirinya dan telapak kaki kanannya yang sudah membusuk (nekrosis).
“Pembuluh darah terjepit, aliran nutrisi tidak bagus, jaringan sudah mengalami nekrosis. Jadi amputasi memang harus dilakukan,” ujar Direktur RSUD Sidoarjo, dr Antok Irawan, menahan haru.
Dalam kondisi lemah pascaoperasi, Rosi sempat melontarkan pertanyaan polos kepada orang tuanya,
“Kapan saya punya kaki baru?” Pertanyaan itu membuat keluarga dan tenaga medis yang menemaninya menitikkan air mata.
Orang tua Rosi menyebut putranya tetap menunjukkan semangat luar biasa.
“Alhamdulillah, dia sudah makan. Masih lemas, tapi semangatnya luar biasa. Anak ini kuat, tiga hari nggak makan, nggak minum, nggak tidur sama sekali,” ucapnya lirih.
Hingga Kamis sore, sebanyak 108 orang berhasil diselamatkan dalam tragedi ambruknya musala ponpes yang terjadi saat Salat Ashar, Senin (29/9) lalu. Namun, 59 orang masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memastikan peluang korban hilang ditemukan hidup sudah tidak ada.
“Secara ilmu pengetahuan, tidak lagi ditemukan tanda-tanda kehidupan,” ujarnya.
Tim SAR gabungan sebelumnya sudah menggunakan berbagai metode pencarian mulai dari pemanggilan manual, search camera, wall scan suffer 400 hingga multi search seismic scanner dan drone thermal. Namun, semua upaya itu nihil.
Akhirnya, Kamis siang, lima unit crane diturunkan untuk mulai mengangkat puing-puing berat. Proses evakuasi kini beralih dari misi pencarian korban hidup ke pemindahan material dan pencarian jenazah.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam. Di tengah isak keluarga korban, kisah perjuangan Rosi menjadi secercah harapan bahwa di balik reruntuhan, masih ada nyawa yang sempat diselamatkan meski dengan pengorbanan besar. [YKP]

