RELUNG.ID – Pukul satu dini hari di Silaberanti, Jakabaring, Palembang. Sementara sebagian besar kota masih terlelap, dapur besar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru baru saja hidup.
Suara spatula beradu dengan wajan, desis minyak panas, dan aroma ayam kecap yang menguar di udara bercampur wangi kukusan nasi putih.
Di tengah riuh rendah itu, Dwi Ruliani berdiri tegap di depan meja panjang penuh timbangan, sayur, dan catatan kecil. Seragam birunya tampak rapi, celemek hijau muda melingkari pinggang.
Sejak awal dapur ini berdiri, ia sudah menjadi bagian dari denyutnya seorang ahli gizi yang menjaga agar setiap porsi bukan sekadar lezat, tapi juga bernutrisi.
“Setiap bahan datang, kami kontrol satu-satu. Setelah dimasak, diuji dulu rasanya sebelum dibagikan,” ujar Dwi sambil tersenyum. “Kerjanya memang dari sore sampai dini hari. Tapi karena lingkungannya positif, kita tetap semangat.” tambahnya.
Bagi Dwi, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya pekerjaan. Ia menyebutnya ‘ibadah sosial’ misi kecil untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan bahagia. “Kami di sini bekerja dengan hati. Rasanya seperti keluarga besar yang punya tujuan sama,” katanya.
SPPG Silaberanti memang beroperasi seperti dapur industri. Tiga shift bergantian tanpa henti: pagi, sore, dan malam. Lenny Agusmayanti, sang koordinator dapur, mengatur ritme seperti seorang dirigen orkestra.
“Shift pagi pemorsian dan distribusi, sore persiapan bahan, malam masak. Kalau untuk sekolah siang, masaknya subuh supaya fresh,” ujarnya sambil memeriksa daftar pengiriman di tangannya.
Bahan-bahan datang dari pemasok mitra: ayam segar, sayuran hijau, buah musiman. Tak ada yang disimpan lama. “Begitu datang, langsung diolah malam itu juga,” kata Lenny.
Kedisiplinan dan kebersihan menjadi aturan utama. Setiap relawan wajib memakai masker, celemek, penutup kepala, bahkan ponsel dilarang dibawa ke ruang masak. “Kami menjaga agar tak ada risiko kontaminasi. Karena yang kami tangani bukan sekadar makanan, tapi nutrisi untuk masa depan anak-anak,” tegasnya.
Setelah masakan matang, belum boleh langsung dikemas. Ada fase “pendinginan” di ruang ber-AC agar nasi tidak lembab. “Kalau panas langsung dikemas, nanti basi. Jadi didinginkan dulu, baru diporsikan,” jelasnya.
Menurut Egi Bepa Prandika, Kepala SPPG Silaberanti, dapur ini dibangun dengan standar tinggi. “Ada sekitar 25 sampai 27 ruangan. Semua punya fungsi masing-masing, mulai dari penyimpanan bahan, dapur utama, ruang pengepakan, ruang pendingin, sampai mushola,” paparnya.
Setiap detail dipikirkan: lantai epoksi antiselip, air bersih dengan filter, sistem ventilasi dan blower yang optimal, hingga instalasi pengolahan limbah cair (IPAL) sendiri. “Material bangunan sesuai standar BGN, jadi benar-benar aman dan higienis,” tambahnya.
Ruang pemasakan dan pemorsian menjadi titik paling vital. Dua area itu, kata Egi, dibersihkan berkali-kali dalam sehari oleh petugas khusus. “Karena dapur ini beroperasi hampir 24 jam, kami tak boleh lengah.” tegasnya.
Begitu fajar merekah, giliran Rendi Pratama, petugas distribusi, mengambil alih. Dengan rompi oranye dan senyum ramah, ia memuat ribuan ompreng ke dalam mobil boks bertuliskan SPPG Polri.
“Tiga sekolah jadi tujuan pagi ini, SMPN 15 Palembang, SMP NU, dan SMA NU,” katanya. “Jaraknya sekitar 15 menit, tapi kami harus pastikan makanan tetap aman dan hangat.” tambahnya.
Mobil boks itu kedap udara, menjaga makanan dari panas, debu, dan hujan. “Kadang hujan deras itu tantangan. Tapi sejauh ini, alhamdulillah, tak pernah telat.” terangnya.
Di SMPN 15 Palembang, sambutan siswa selalu hangat. Mutamar, guru agama di sekolah tersebut, tersenyum saat mengenang hari pertama program MBG berjalan pada 13 Oktober 2025.
“Anak-anak bahkan sudah senang sejak pengumuman. Sekarang tiap pagi mereka menunggu mobil pengantar datang,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Salah satu siswa, Khairinnisa Pelia, Ketua OSIS kelas 8.8, mengaku punya menu favorit.
“Ayam kecap! Enak banget,” serunya. “Aku baru tahu yang masak itu dari kepolisian. Bangga, ternyata polisi nggak cuma jaga keamanan, tapi juga peduli sama kami.” terangnya.
Program SPPG Polri dan Yayasan Kemala Bhayangkari ini memang bukan sekadar dapur umum. Ia adalah wujud konkret dari kepedulian negar, bahwa hak gizi anak bukan barang mewah, melainkan kebutuhan dasar.
Dari Silaberanti, setiap ompreng yang diantar bukan hanya berisi nasi, lauk, dan sayur. Di dalamnya tersimpan doa, semangat gotong royong, dan cita rasa kasih sayang yang mengalir dari dapur kecil menuju masa depan bangsa. (DNP)

