RELUNG.ID – Masih banyak masyarakat yang mengira token listrik prabayar sama seperti pulsa seluler. Padahal, keduanya memiliki konsep yang berbeda.
Pulsa seluler merupakan saldo layanan, sedangkan token listrik prabayar adalah pembelian energi listrik yang dihitung dalam satuan kilowatt hour (kWh).
Dalam sistem listrik prabayar, pelanggan membeli sejumlah energi listrik terlebih dahulu. Energi tersebut kemudian tersimpan di meteran dan akan terus berkurang setiap kali peralatan listrik digunakan.
Ketika jumlah kWh habis, pelanggan perlu melakukan pengisian ulang token agar listrik dapat kembali digunakan.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menyebutkan bahwa sistem ini dirancang untuk memberi transparansi sekaligus kendali kepada pelanggan terhadap konsumsi listrik mereka.
“Pelanggan prabayar membeli energi listrik dalam jumlah tertentu. Energi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik dan akan berkurang seiring pemakaian. Oleh karena itu, satuan yang digunakan adalah kilowatt hour, bukan rupiah,” ujar Gregorius, Rabu (28/1/2026).
Dalam praktiknya, listrik di rumah tidak dibedakan berdasarkan fungsi atau jenis alat. Semua peralatan menggunakan sumber energi yang sama, sehingga penghitungan pemakaian dilakukan secara total berdasarkan kWh yang terpakai.
Pada setiap transaksi pembelian token, terdapat potongan berupa Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sesuai ketetapan pemerintah daerah, serta biaya administrasi berdasarkan kanal pembayaran yang digunakan. Untuk pembelian dengan nilai tertentu, pelanggan juga dikenakan bea meterai sesuai peraturan yang berlaku.
Sebagai gambaran, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 VA yang membeli token listrik senilai Rp100.000, setelah dipotong PPJ dan biaya administrasi, akan memperoleh energi listrik sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah ini dihitung berdasarkan tarif listrik rumah tangga sebesar Rp1.444,70 per kWh.
Gregorius menambahkan, melalui sistem token listrik prabayar, pelanggan dapat lebih mudah mengatur penggunaan listrik sesuai kebutuhan dan kemampuan.
“Token listrik prabayar bukan sekadar nominal uang, melainkan alokasi energi yang penggunaannya tercatat dan dapat dipantau. Dengan memahami hal ini, pelanggan bisa lebih bijak dalam mengelola konsumsi listrik,” tutupnya. (CKM)

