RELUNG.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian Sumatera Selatan. Tidak hanya memengaruhi pasar saham, kondisi ini juga mulai menekan sektor industri, perdagangan, hingga komoditas unggulan daerah seperti karet.
Berdasarkan data perdagangan 14 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.514 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipicu berbagai faktor global, salah satunya tingginya inflasi Amerika Serikat yang mencapai 3,8 persen.
Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumsel, Hari Mulyono, mengatakan pelemahan rupiah membuat pasar keuangan domestik ikut terguncang. Investor dinilai mulai mengalihkan dana ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan memiliki imbal hasil lebih tinggi.
“Nilai pelemahan rupiah kali ini lebih tinggi dari perkiraan pasar dan mulai memengaruhi pergerakan saham di Indonesia,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Menurut Hari, kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati menempatkan dana di instrumen berbasis rupiah. Jika tren ini berlanjut, arus modal asing keluar dari Indonesia atau capital outflow berpotensi semakin besar.
Ia juga memperingatkan dampak lanjutan berupa kenaikan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat dan memperburuk iklim investasi di daerah.
“Ketika suku bunga AS naik, investor global cenderung memindahkan dananya ke dolar AS. Dampaknya negara berkembang seperti Indonesia akan mengalami tekanan besar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono, memproyeksikan tekanan inflasi di Sumsel pada Mei 2026 akan meningkat cukup signifikan.
Selain dipengaruhi pelemahan rupiah, kenaikan harga sejumlah komoditas juga dipicu faktor musiman dan kenaikan biaya transportasi udara akibat mahalnya harga avtur yang mengikuti lonjakan minyak dunia.
Menurut Bambang, awal musim kemarau juga berpotensi mengganggu produksi hortikultura sehingga memicu kenaikan harga pangan, terutama cabai dan bawang.
“Komoditas seperti cabai dan bawang diperkirakan mengalami kenaikan cukup tinggi,” ujarnya.
Dampak pelemahan rupiah juga mulai dirasakan sektor industri karet yang menjadi salah satu tulang punggung ekspor Sumsel.
Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K. Eddy, mengatakan industri karet kini menghadapi kenaikan biaya produksi akibat melonjaknya harga bahan baku penolong seperti plastik serta meningkatnya biaya operasional.
Meski harga karet dunia mengalami kenaikan, kondisi tersebut belum mampu memberikan keuntungan optimal bagi pelaku industri karena biaya produksi ikut melambung.
“Biaya produksi bisa naik lebih dari 10 persen. Jadi kenaikan harga karet belum tentu menguntungkan produsen,” katanya.
Menurut Alex, tekanan juga mulai dirasakan petani karet di tingkat hulu. Persaingan antar pabrik untuk mendapatkan bahan baku menyebabkan harga getah karet meningkat sehingga memicu lonjakan biaya produksi secara menyeluruh.[THQ]

