Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Bisnis»Pelemahan Rupiah Juga Jadi Ancaman Industri Karet dan Inflasi di Sumsel
Bisnis

Pelemahan Rupiah Juga Jadi Ancaman Industri Karet dan Inflasi di Sumsel

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda15/05/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Ilustrasi uang rupiah. Foto : Istock
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian Sumatera Selatan. Tidak hanya memengaruhi pasar saham, kondisi ini juga mulai menekan sektor industri, perdagangan, hingga komoditas unggulan daerah seperti karet.

Berdasarkan data perdagangan 14 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.514 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipicu berbagai faktor global, salah satunya tingginya inflasi Amerika Serikat yang mencapai 3,8 persen.

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumsel, Hari Mulyono, mengatakan pelemahan rupiah membuat pasar keuangan domestik ikut terguncang. Investor dinilai mulai mengalihkan dana ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan memiliki imbal hasil lebih tinggi.

“Nilai pelemahan rupiah kali ini lebih tinggi dari perkiraan pasar dan mulai memengaruhi pergerakan saham di Indonesia,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).

Menurut Hari, kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati menempatkan dana di instrumen berbasis rupiah. Jika tren ini berlanjut, arus modal asing keluar dari Indonesia atau capital outflow berpotensi semakin besar.

Ia juga memperingatkan dampak lanjutan berupa kenaikan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat dan memperburuk iklim investasi di daerah.

“Ketika suku bunga AS naik, investor global cenderung memindahkan dananya ke dolar AS. Dampaknya negara berkembang seperti Indonesia akan mengalami tekanan besar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono, memproyeksikan tekanan inflasi di Sumsel pada Mei 2026 akan meningkat cukup signifikan.

Selain dipengaruhi pelemahan rupiah, kenaikan harga sejumlah komoditas juga dipicu faktor musiman dan kenaikan biaya transportasi udara akibat mahalnya harga avtur yang mengikuti lonjakan minyak dunia.

Menurut Bambang, awal musim kemarau juga berpotensi mengganggu produksi hortikultura sehingga memicu kenaikan harga pangan, terutama cabai dan bawang.

“Komoditas seperti cabai dan bawang diperkirakan mengalami kenaikan cukup tinggi,” ujarnya.

Dampak pelemahan rupiah juga mulai dirasakan sektor industri karet yang menjadi salah satu tulang punggung ekspor Sumsel.

Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K. Eddy, mengatakan industri karet kini menghadapi kenaikan biaya produksi akibat melonjaknya harga bahan baku penolong seperti plastik serta meningkatnya biaya operasional.

Meski harga karet dunia mengalami kenaikan, kondisi tersebut belum mampu memberikan keuntungan optimal bagi pelaku industri karena biaya produksi ikut melambung.

“Biaya produksi bisa naik lebih dari 10 persen. Jadi kenaikan harga karet belum tentu menguntungkan produsen,” katanya.

Menurut Alex, tekanan juga mulai dirasakan petani karet di tingkat hulu. Persaingan antar pabrik untuk mendapatkan bahan baku menyebabkan harga getah karet meningkat sehingga memicu lonjakan biaya produksi secara menyeluruh.[THQ]

Inflasi Karet Rupiah Melemah Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleFerdy Sambo Jalani Kuliah S2 Teologi dari Dalam Lapas
Next Article DPR Dorong Guru Honorer Segera Diangkat Jadi ASN sebelum Akhir 2026
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Regional

Pelaku Perampokan Mahasiswa di Muratara Ditangkap, Modusnya Berhentikan Mobil Korban

08/10/20265 Views
Regional

Sumsel Masih Berasap, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Tiga Wilayah

06/10/20266 Views
Regional

Karhutla Sumatra-Kalimantan Disorot Leonardo DiCaprio

05/10/20265 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,912 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,784 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,757 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?