RELUNG.ID – Penurunan harga karet di tingkat petani dalam sepekan terakhir kembali menjadi alarm bagi industri perkebunan nasional. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan fluktuasi harga, melainkan mencerminkan masih lemahnya daya tahan petani yang bergantung pada pasar ekspor dan belum didukung industri hilir yang kuat.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, mengatakan Indonesia sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia seharusnya tidak terus bergantung pada perdagangan bahan baku. Menurutnya, hilirisasi menjadi solusi strategis untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga stabilitas pendapatan petani.
“Ketika harga global turun, pendapatan petani langsung tertekan, sementara biaya produksi terus meningkat. Ini bukan hanya persoalan harga, tetapi menunjukkan struktur industri karet kita yang belum mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” kata Rudi, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, selama ini harga karet di tingkat petani masih mengikuti pergerakan harga internasional, termasuk acuan dari Singapore Commodity Exchange (SICOM). Akibatnya, petani tidak memiliki kendali ketika harga dunia mengalami penurunan.
Menurut Rudi, pembahasan mengenai kesejahteraan petani seharusnya tidak berhenti pada naik-turunnya harga komoditas, tetapi diarahkan pada pembangunan industri pengolahan yang mampu menyerap lebih banyak hasil kebun rakyat.
“Hilirisasi menjadi jalan keluar agar petani tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Kita harus mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujarnya.
Ia menilai potensi pengembangan industri karet nasional masih sangat besar. Selain menjadi bahan baku ban kendaraan, karet alam juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, seperti komponen otomotif, bantalan jembatan tahan gempa, sarung tangan medis, peralatan kesehatan, perlengkapan industri migas, kebutuhan pertahanan, hingga campuran aspal karet untuk pembangunan jalan.
Namun, dibandingkan komoditas strategis lain seperti sawit dan nikel, pengembangan hilirisasi karet dinilai masih tertinggal.
Karena itu, Apkarindo mendorong pemerintah segera menyusun peta jalan hilirisasi karet nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha hingga petani.
Rudi juga mengusulkan sejumlah langkah konkret, seperti memperluas penggunaan aspal karet dalam proyek infrastruktur, membangun unit pengolahan lateks di sentra produksi, mengembangkan kawasan *Techno Park* karet, memberikan insentif bagi industri berbasis karet, serta memperkuat pendidikan vokasi untuk menyiapkan tenaga kerja sektor hilir.
“Kalau hanya berharap harga dunia kembali naik, petani akan terus berada dalam posisi rentan. Yang harus dibangun adalah industri dalam negeri yang mampu menyerap hasil kebun rakyat dan memberikan nilai tambah lebih besar,” tegasnya.[THQ]

