Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Truk PT MME Dikawal Melintasi Jalan Negara, Warga Pertanyakan Larangan Angkutan Batubara

11/10/2026

Rumah Panggung di Bukit Baru Palembang Ludes Terbakar, Damkar Kerahkan Enam Mobil

11/10/2026

Ekspor Madu Muara Enim ke Singapura Melonjak, Tembus 1,5 Ton

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Bisnis»Harga Karet Turun Lagi, Petani Sumsel Masih Sulit Lepas dari Bayang-Bayang Pasar Dunia
Bisnis

Harga Karet Turun Lagi, Petani Sumsel Masih Sulit Lepas dari Bayang-Bayang Pasar Dunia

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda01/07/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
ilustrasi tanaman karet. (Istimewa/net)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Penurunan harga karet di tingkat petani dalam sepekan terakhir kembali menjadi alarm bagi industri perkebunan nasional. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan fluktuasi harga, melainkan mencerminkan masih lemahnya daya tahan petani yang bergantung pada pasar ekspor dan belum didukung industri hilir yang kuat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, mengatakan Indonesia sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia seharusnya tidak terus bergantung pada perdagangan bahan baku. Menurutnya, hilirisasi menjadi solusi strategis untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga stabilitas pendapatan petani.

“Ketika harga global turun, pendapatan petani langsung tertekan, sementara biaya produksi terus meningkat. Ini bukan hanya persoalan harga, tetapi menunjukkan struktur industri karet kita yang belum mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” kata Rudi, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, selama ini harga karet di tingkat petani masih mengikuti pergerakan harga internasional, termasuk acuan dari Singapore Commodity Exchange (SICOM). Akibatnya, petani tidak memiliki kendali ketika harga dunia mengalami penurunan.

Menurut Rudi, pembahasan mengenai kesejahteraan petani seharusnya tidak berhenti pada naik-turunnya harga komoditas, tetapi diarahkan pada pembangunan industri pengolahan yang mampu menyerap lebih banyak hasil kebun rakyat.

“Hilirisasi menjadi jalan keluar agar petani tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Kita harus mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujarnya.

Ia menilai potensi pengembangan industri karet nasional masih sangat besar. Selain menjadi bahan baku ban kendaraan, karet alam juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, seperti komponen otomotif, bantalan jembatan tahan gempa, sarung tangan medis, peralatan kesehatan, perlengkapan industri migas, kebutuhan pertahanan, hingga campuran aspal karet untuk pembangunan jalan.

Namun, dibandingkan komoditas strategis lain seperti sawit dan nikel, pengembangan hilirisasi karet dinilai masih tertinggal.

Karena itu, Apkarindo mendorong pemerintah segera menyusun peta jalan hilirisasi karet nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha hingga petani.

Rudi juga mengusulkan sejumlah langkah konkret, seperti memperluas penggunaan aspal karet dalam proyek infrastruktur, membangun unit pengolahan lateks di sentra produksi, mengembangkan kawasan *Techno Park* karet, memberikan insentif bagi industri berbasis karet, serta memperkuat pendidikan vokasi untuk menyiapkan tenaga kerja sektor hilir.

“Kalau hanya berharap harga dunia kembali naik, petani akan terus berada dalam posisi rentan. Yang harus dibangun adalah industri dalam negeri yang mampu menyerap hasil kebun rakyat dan memberikan nilai tambah lebih besar,” tegasnya.[THQ]

Harga Karet Karet Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePaman dr Icha Desak Oknum Anggota DPRD TTU Jujur Soal Dugaan Intimidasi
Next Article KA Rajabasa Dongkrak Penumpang, KAI Divre III Layani Lebih dari 603 Ribu Pelanggan
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Regional

Pelaku Perampokan Mahasiswa di Muratara Ditangkap, Modusnya Berhentikan Mobil Korban

08/10/20265 Views
Regional

Sumsel Masih Berasap, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Tiga Wilayah

06/10/20266 Views
Regional

Karhutla Sumatra-Kalimantan Disorot Leonardo DiCaprio

05/10/20266 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,939 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,809 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,782 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?