RELUNG.ID – Amazon bersiap menggelontorkan dana sebesar 100 miliar Dolar AS atau sekitar Rp1.600 triliun untuk pengembangan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI) sepanjang tahun 2025. Angka fantastis ini menjadi salah satu investasi terbesar dalam sejarah perusahaan e-commerce raksasa tersebut.
Kepala Keuangan Amazon, Brian Olsavsky, mengungkapkan bahwa belanja modal (capital expenditure) tahun ini akan sebanding dengan kuartal keempat 2024, di mana Amazon telah menghabiskan 26,3 miliar Dolar AS.
“Belanja modal kami tahun ini diperkirakan akan tetap tinggi, dengan fokus utama pada pengembangan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendorong inovasi di berbagai lini bisnis,” ujar Olsavsky.
Meski agresif dalam investasi, Amazon memproyeksikan pendapatan untuk kuartal pertama 2025 berada di kisaran 151–155 miliar Dolar AS, sedikit di bawah estimasi rata-rata analis sebesar 158 miliar Dolar AS.
CEO Amazon, Andy Jassy, mengakui bahwa salah satu tantangan utama perusahaan adalah pasokan chip komputer yang tidak konsisten, yang berdampak pada pertumbuhan layanan cloud mereka, Amazon Web Services (AWS).
“Kami bisa tumbuh lebih cepat jika tidak ada kendala kapasitas, khususnya dalam pasokan chip dari mitra pihak ketiga kami yang datang lebih lambat dari biasanya,” jelas Jassy.
Meskipun demikian, Jassy optimis bahwa munculnya layanan AI murah dari perusahaan seperti DeepSeek asal China tidak akan merugikan Amazon. Justru, ia melihat hal ini sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan karena mendorong adopsi AI secara lebih luas di pasar global.
Amazon bukan satu-satunya raksasa teknologi yang mengalokasikan dana besar untuk AI. CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga mengumumkan bahwa perusahaannya akan menghabiskan ratusan miliar Dolar AS untuk pengembangan AI dalam jangka panjang.
Untuk tahun 2025 saja, Meta berencana mengalokasikan setidaknya 60 miliar Dolar AS untuk belanja modal, sebagian besar difokuskan pada infrastruktur AI, termasuk pengembangan model AI canggih dan data center berteknologi tinggi.
Zuckerberg menegaskan bahwa investasi besar ini diperlukan untuk menjaga daya saing Meta di tengah maraknya persaingan teknologi AI global.
Lonjakan investasi ini menandakan bahwa industri teknologi global tengah memasuki era baru di mana AI menjadi pusat strategi pertumbuhan. Perusahaan-perusahaan Big Tech berlomba-lomba memperkuat infrastruktur mereka untuk menguasai pasar AI yang semakin kompetitif.
Namun, di balik potensi besar, kekhawatiran mengenai tingginya biaya pengembangan AI juga mencuat. Beberapa analis menilai bahwa lonjakan belanja modal ini bisa menjadi beban finansial, terutama jika pertumbuhan pendapatan tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.
Meski begitu, Amazon dan Meta tampaknya percaya bahwa risiko tersebut sepadan dengan potensi keuntungan jangka panjang dari dominasi di pasar AI global. Waktu yang akan membuktikan apakah investasi triliunan dolar ini benar-benar akan menjadi lompatan besar atau justru beban yang menghambat langkah mereka.[TRA]

