RELUNG.ID – Kematian Cindy Purnamasari (25) warga Jalan Abi Kusno, Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Jakabaring, Palembang yang diduga disekap oleh sang suami berinisial WS (26) meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.
Ayah kandung korban Sutrano (56) seakan tak percaya putri kesayangannya itu telah tiada. Dia berkata terakhir bertemu dengan Cindy pada Oktober 2024 lalu. Saat itu, kondisi korban masih dalam keadaan sehat walafiat.
“Sampai sekarang masih terkenang dengan dia (korban Cindy). Saya merasa ada kejanggalan dengan kematiannya. Oktober 2024, itu terakhir bertemu dengan dia, masih sehat dan memang dia memakai cadar,” kata sang ayah
Ditemui di rumahnya sekaligus rumah duka, Jalan Mataram Ujung, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sutrano mengatakan setelah pertemuan itu dia tak lagi mendengar kabar anaknya.
“Posisi dia cuma diam, tidak banyak cerita. Baik kepada saya, maupun kepada saudaranya yang lain Pak. Sore hari baru pulang ke rumah dia. Setelah itu, kami hilang kontak dan tidak pernah lagi komunikasi lagi dengan dia,” jelas Sutrano.
Barulah, kata Sutrano, pada Selasa (21/1) sekitar pukul 18.00 WIB, dia menerima kabar dari WS yang mengatakan Cindy sedang sakit dan terbaring lemah di kamar. Oleh karena itulah, dia bersama kakak korban Purwanto datang ke rumah Cindy.
“Baru itulah, kami melihat langsung keadaan dia (korban) Pak. Kondisinya sangat miris sekali, rambutnya penuh dengan kutu, badan kurus tinggal tulang dan bau tidak sedap. Disinilah kami mulai menaruh rasa curiga,” jelas dia.
Melihat kondisi anaknya seperti itu, dia pun langsung membawanya ke Rumah Sakit Hermina Jakabaring Palembang.
“Bukan suaminya (terlapor) yang mengangkat korban ke dalam mobil, tetapi tetangga Pak. Dilihat dari kondisinya, seperti tidak diurus pas anak saya sedang sakit seperti ditelantarkan saja. Kita juga bertanya, sakit anak saya oleh apa,” tanya dia.
Lebih jauh Sutrano mengatakan, setiba di RS Hermina Jakabaring Palembang, anaknya Cindy langsung mendapatkan perawatan intensif. Namun, dokter menyarankan untuk segera membuat laporan polisi.
“Kami melapor karena dokter yang menyarankan untuk membuat laporan di polisi. Kami justru tambah bertanya, ada apa sebenarnya. Tetapi kami tidak tahu dialami oleh korban. Saya berharap laporan kami diproses, dan terlapor diperiksa,” pungkasnya. (DNP)

