RELUNG.ID – Seasia Stats telah merilis beberapa kota-kota yang hilang di Asia Tenggara, salah satunya Ibu Kota dari Kerajaan Sriwijaya di Kota Palembang.
Hal ini tentunya mendapat respon dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Palembang dan sejarawan di Kota Palembang.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Palembang, Wahyu Rizky Andhifani menilai ibu kota Kedatuan Sriwijaya harus dilihat dari periodisasi atau tahunnya.
“Kalau awal Sriwijaya itu di Minanga , Komering (Sumatera Selatan), terus abad 7 sampai abad 9, Ibu kota Kedatuan Sriwijaya di Palembang, setelah itu ibu kota Kedatuan Sriwijaya pindah ke Jambi mungkin pindah lagi ke Kedah (Malaysia),” kata arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (Brin) ini, Kamis kemarin (13/2).
Untuk di Palembang sendiri, menurutnya, ibu kota Kedatuan Sriwijaya ini terletak di Kawasan Ki Gede Ing Suro atau tepatnya di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II Palembang atau dekat kawasan PT Pusri. Hal ini dikarenakan adanya temuan Prasasti Telaga Batu yang berisikan birokrasi Kedatuan Sriwijaya.
“Kajian soal ibu kota Sriwijaya di Palembang ini telah banyak dilakukan, tapi memang untuk sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya.
Karena itu, jika memang ada upaya kajian kedepannya maka dia akan mendukung kajian mengenai Ibu Kota Kedatuan Sriwijaya.
“Kalau memang dibutuhkan arkeolog maka kami siap mendukung kajian ini,” tegasnya.
Sementara itu, Sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Dedi Irwanto menilai selama ini keberadaan Kedatuan Sriwijaya tidak lepas dari perdebatan.
Begitu ditemukan prasasti Sriwijaya di Kota Kapur (Bangka Belitung), lalu kemudian ditulis buku tentang Sriwijaya oleh George Codes. Peneliti pertama ini menyebutkan bahwa permulaan ibu kota Kedatuan Sriwijaya di Palembang. Namun, hal ini mengundang banyak sanggahan.
“Ada bilang Muara Takus, ada yang bilang Muaro Jambi dari penelitian-penelitian berikutnya termasuk tulisan-tulisan lokal dari pak Slamet Mulyana,” katanya.
Dari tulisan lokal ini disebutkan jika Kerajaan Sriwijaya itu tidak berkembang dari awal sampai akhir di Palembang. Namun, memang Kedatuan Sriwijaya itu ada di Palembang tapi dalam perkembangan berikutnya pada abad 11 sampai 13 masehi, Sriwijaya berpindah ke Darmasraya ke Sungai Batanghari itu melewati Jambi.
“Tapi menariknya orang selalu berkeyakinan ibu kota Kerjaan Sriwijaya di Palembang, terutama ditemukan berbagai prasasti di kota Palembang termasuk Prasasti Telaga Baru yang memperkuat Kedatuan Sriwijaya di Palembang dimana dalam prasasti tersebut menyebutkan struktur pemerintahan mulai Raja sampai pegawai rendah,” terangnya.
Namun, para arkeolog banyak menyangsikan kenapa ada prasasti kutukan kalau itu ibu kota Kedatuan Sriwijaya di Palembang.
Dia pun meyakini dari beberapa reperensi justru memang di ibu kota itu harus diperkuat pengikatan kesetiaan jadi penemuan awal prasasti Kedukan Bukit sebagai akte kelahiran Kedatuan Sriwijaya lalu ibukota Sriwijaya ada sekitar prasasti Telaga Batu atau sekitar PT Pusri dan sekitar Komplek Ki Gede Ing Suro sekarang.
“Komplek Ki Gede Ing Suro adalah awalnya adalah bangunan candi dan dijadikan makam oleh pihak Kerajaan Palembang,” ujarnya.
Dia pun mengakui penelitian terkait Kerajaan Sriwijaya ini sempat terhenti setelah diteliti oleh George Codes. Selain itu, penelitian dari kawan kawan arkeolog tentang Sriwijaya juga banyak tidak di publis.
“Mereka sangat yakin kalau daerah itulah (PT Pusri) ibu kota Sriwijaya,” pungkasnya. (DSK)

