RELUNG.ID – Ancaman gangguan pernapasan mulai menjadi perhatian serius di tengah musim kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.
Data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menunjukkan ribuan warga masih mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026.
Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi dibandingkan sejumlah kabupaten dan kota lainnya.
Pada periode 1-10 Agustus, tercatat 4.370 kasus ISPA di Palembang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Musi Banyuasin yang mencatat 1.065 kasus dan Muara Enim sebanyak 987 kasus.
Sementara hingga 17 Agustus, Palembang kembali melaporkan 2.678 kasus. Musi Banyuasin mencatat 1.150 kasus, Banyuasin 675 kasus, Muara Enim 583 kasus, serta Ogan Ilir 436 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan kondisi musim kemarau perlu diwaspadai karena udara yang lebih kering dapat meningkatkan konsentrasi debu dan polutan.
Situasi tersebut berpotensi semakin buruk ketika asap karhutla muncul dan memengaruhi kualitas udara.
“Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih, yakni anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan,” kata Ira, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, paparan debu, polusi, dan asap dapat memicu berbagai keluhan, seperti batuk, pilek, hingga sakit tenggorokan. Bagi masyarakat yang telah memiliki gangguan pernapasan, kualitas udara yang memburuk juga berisiko memperparah kondisi kesehatan.
Meski begitu, secara kumulatif jumlah kasus ISPA pada Januari-Juli 2026 masih menunjukkan angka yang relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada dua tahun sebelumnya.
Pada Januari 2026, jumlah kasus ISPA tercatat 50.651 kasus dan meningkat menjadi 51.115 kasus pada Februari. Selanjutnya, angka tersebut turun menjadi 45.385 kasus pada Maret dan 43.503 kasus pada April.
Namun, memasuki musim kemarau, Dinkes Sumsel tetap meminta masyarakat tidak lengah. Pada Mei tercatat 36.395 kasus, Juni 36.294 kasus, dan kembali meningkat menjadi 38.345 kasus pada Juli.
Ira mengatakan peningkatan kasus dapat terjadi apabila paparan asap karhutla semakin meluas dan kualitas udara memburuk dalam waktu cukup lama.
Karena itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara tidak sehat. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah.
Selain itu, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih dan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan yang tidak kunjung membaik.
“Yang terpenting masyarakat tetap memperhatikan kondisi kualitas udara. Kalau memang kualitas udara sedang tidak baik akibat asap, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar dan menggunakan pelindung pernapasan,” ujarnya.
Dinkes Sumsel pun terus melakukan pemantauan perkembangan kasus ISPA di seluruh kabupaten dan kota, terutama di wilayah yang terdampak karhutla.
Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien serta memastikan kesiapan fasilitas kesehatan selama puncak musim kemarau. (THQ)

