RELUNG.ID – Singapura tengah menghadapi situasi ekonomi yang kontras. Di satu sisi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda tujuh sektor utama sepanjang Januari–September 2025, mencatat total 19.800 pekerja kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, tingkat pengangguran tetap stabil dan peluang kerja baru terus bertambah.
Data terbaru Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura menunjukkan dua sektor paling terpukul adalah properti serta informasi dan komunikasi, masing-masing dengan 4.400 dan 4.100 PHK. Sektor-sektor bernilai tinggi lainnya seperti layanan profesional, retail trade, wholesale trade, pendidikan, dan makanan-minuman mengalami dampak signifikan.
Namun ironi muncul saat melihat komposisi ketenagakerjaan. Sektor yang tumbuh justru berasal dari industri dengan gaji rendah yang banyak mempekerjakan buruh migran, seperti konstruksi dan pekerja domestik. Sementara sektor-sektor yang didominasi tenaga lokal dan ekspatriat terampil menyusut.
Meski pemerintah menyebut kebutuhan tenaga TI meningkat, data lapangan bercerita lain. Sektor informasi dan komunikasi mengalami pengurangan lebih dari 4.000 pekerja pada 2025, atau total 9.500 jika digabungkan dengan tahun sebelumnya. Bahkan sektor TI secara keseluruhan kehilangan hampir 10.000 tenaga kerja dalam dua tahun terakhir.
Fenomena ini diyakini terkait perubahan kebutuhan kompetensi. Permintaan terhadap keahlian baru seperti AI, data engineering, atau keamanan siber meningkat drastis, sementara keterampilan lama kehilangan relevansi dan mendorong PHK pada fungsi yang sudah tidak strategis.
Di sektor real estate, kebijakan pemerintah untuk menahan laju kenaikan harga properti turut memukul kebutuhan tenaga kerja, termasuk analis pasar dan tim pemasaran.
Laporan MTI memang tidak merinci status kewarganegaraan pekerja yang terdampak. Namun tren yang muncul cukup jelas: sektor-sektor dengan dominasi pekerja lokal mengalami kontraksi, sementara sektor berbiaya rendah yang mengandalkan tenaga kerja migran justru berkembang.
Paradoks ini memunculkan kekhawatiran mengenai struktur ekonomi Singapura. Di permukaan, ekonomi tetap kokoh, namun di dalamnya terjadi reposisi besar-besaran terhadap jenis pekerjaan.
Bertolak belakang dengan gelombang PHK, tingkat pengangguran nasional Singapura tercatat hanya 2 persen—salah satu yang terendah di dunia. Untuk penduduk lokal, angkanya tetap berada di bawah 3 persen.
MTI bahkan mencatat bahwa kuartal III 2025 mencatat lonjakan rekrutmen hampir 30.000 tenaga kerja baru, membuat total lowongan terisi mendekati 50.000 sepanjang tahun.
Pakar menilai bahwa tingginya mobilitas kerja dan cepatnya penyerapan tenaga profesional membuat dampak PHK tidak terlihat dalam angka pengangguran. Banyak pekerja teknologi yang terkena PHK justru berpindah ke industri lain seperti keuangan, logistik, dan layanan kesehatan.[THQ]

