RELUNG.ID – Perusahaan otomotif asal Tiongkok, BAIC, memperkenalkan inovasi terbaru dalam teknologi kendaraan listrik berupa baterai ion natrium yang diklaim mampu terisi penuh hanya dalam waktu 11 menit.
Teknologi ini berpotensi menjadi alternatif dari baterai lithium yang selama ini mendominasi industri mobil listrik.
Baterai ion natrium tersebut menggunakan material berbasis garam sebagai pengganti lithium yang lebih mahal dan terbatas ketersediaannya.
BAIC menyatakan bahwa baterai ini telah dikembangkan dalam bentuk sel prismatik, yakni desain berbentuk persegi panjang datar yang efisien untuk dipasang pada kendaraan.
Dari sisi performa, baterai ini memiliki kepadatan energi sebesar 170 Wh/kg. Angka tersebut dinilai cukup kompetitif dibandingkan baterai lithium yang umum digunakan saat ini.
Kepadatan energi menjadi faktor penting karena menentukan seberapa banyak daya yang dapat disimpan dalam ukuran baterai yang relatif kecil.
Dalam pengujian keamanan, baterai ini menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tim insinyur BAIC menguji baterai hingga kondisi ekstrem, termasuk pengisian daya hingga 200 persen dari kapasitas normal.
Hasilnya, baterai tidak mengalami kebakaran maupun ledakan. Selain itu, baterai tetap stabil saat diuji pada suhu tinggi hingga 200 derajat Celsius, melampaui standar keselamatan nasional di Tiongkok.
Keunggulan lain dari baterai ion natrium ini adalah kemampuannya beroperasi pada suhu ekstrem. Baterai dirancang untuk tetap berfungsi pada suhu serendah -40°C hingga setinggi 60°C.
Bahkan pada suhu -20°C, baterai masih mampu mempertahankan lebih dari 92 persen kapasitas energinya. Hal ini menjadikannya solusi potensial bagi pengguna di wilayah beriklim dingin.
Selain BAIC, sejumlah produsen otomotif lain juga mulai mengembangkan teknologi serupa. Pada Februari 2026, Changan Automobile bersama CATL memperkenalkan mobil penumpang berbasis baterai ion natrium dengan kapasitas 45 kWh dan jarak tempuh lebih dari 400 kilometer.
Kendaraan tersebut direncanakan mulai dipasarkan pada pertengahan 2026.
Sementara itu, BYD juga tengah mengembangkan baterai natrium yang diklaim mampu diisi ulang hingga 10.000 kali sebelum mengalami penurunan kinerja signifikan.
Ketertarikan industri terhadap natrium didorong oleh ketersediaannya yang melimpah dan biaya produksinya yang lebih rendah dibandingkan lithium. Faktor ini dinilai dapat menekan harga kendaraan listrik di masa depan, sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
Meski demikian, baterai ion natrium saat ini masih memiliki keterbatasan dalam hal kepadatan energi dibandingkan baterai lithium kelas atas.
Teknologi ini dinilai lebih cocok untuk kendaraan listrik berukuran kecil atau penggunaan perkotaan.
Pengembangan baterai ini merupakan bagian dari program “Baterai Aurora” milik BAIC, yang juga mencakup riset terhadap teknologi baterai lainnya, termasuk baterai solid-state.
Hingga kini, BAIC telah mengajukan sekitar 20 paten terkait teknologi natrium, mencakup material dan metode produksi sel baterai.
Meskipun belum diumumkan model kendaraan yang akan pertama kali menggunakan teknologi ini, inovasi baterai ion natrium dinilai menjadi langkah penting dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik secara global. (LWM)

