RELUNG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) pada Mei 2025 mencapai 2,33 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,93.
Dua komoditas utama yang menyumbang inflasi tersebut adalah bawang putih dan cabai.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menyebutkan bahwa meskipun terjadi penurunan harga pada sejumlah komoditas hortikultura, termasuk bawang putih dan cabai, namun kenaikan harga beras menjadi faktor dominan dalam inflasi bulan Mei.
“Harga beras naik karena harga gabah sebagai bahan baku dasar mengalami peningkatan sejak enam minggu terakhir. Saat ini harga gabah mencapai Rp6.500 per kilogram. Otomatis ketika digiling, harga beras ikut naik,” jelas Wahyu dalam konferensi pers, Senin (2/6/2025).
Menurutnya, kenaikan harga gabah berdampak langsung terhadap inflasi, mengingat beras merupakan salah satu komoditas utama dalam konsumsi rumah tangga.
Dari enam daerah pemantauan BPS di Sumsel, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Enim sebesar 3,32 persen dengan IHK sebesar 110,34, sementara inflasi terendah tercatat di Kota Lubuklinggau sebesar 1,85 persen dengan IHK 107,29.
Sementara itu, inflasi month-to-month (m-to-m) Sumsel pada Mei 2025 justru menunjukkan deflasi sebesar -0,35 persen, dan inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 1,79 persen.
Wahyu menambahkan bahwa meskipun harga beras naik, pasokan beras di Sumsel masih dalam kondisi aman karena Sumsel memiliki area persawahan yang luas dan tingkat produksi padi yang tinggi.
“Kita tidak perlu khawatir, pasokan beras relatif aman. Produksi padi kita cukup tinggi, sekitar 8.000 ton. Jadi ini menunjukkan komoditas beras bukan termasuk komoditas yang langka,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, Wahyu berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong. Pemerintah daerah juga terus memantau harga dan pasokan bahan pangan pokok agar tetap stabil di pasar. (CKM)

