RELUNG.ID – Jika berkunjung ke Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), jangan lupa cicipi bingko, kue ringan tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran makanan modern. Meski sederhana, bingko sudah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Pedamaran sejak puluhan tahun silam.
Bingko kerap disamakan dengan kue gunjing di Palembang atau pukis, namun cita rasa dan cara penyajiannya punya ciri khas tersendiri. Harganya pun masih terjangkau, hanya Rp1.000 per biji. Hampir di setiap sudut Pedamaran, kue ini mudah ditemui, baik pagi maupun sore hari.
“Sejak dulu bingko sudah ada. Bahannya sederhana, tepung beras dan kelapa. Dulu di sini setiap rumah tanam padi dan kelapa. Jadi bahan mudah didapat,” ujar Robinhod Kunut, tetua adat Marga Danau, Sabtu (12/7/2025).
Dahulu, hampir setiap rumah tangga di Pedamaran membuat bingko sendiri. Kebiasaan ini tidak lepas dari tradisi keluarga besar yang lazim memiliki 10 hingga 12 anak. “Ibu-ibu buat bingko pagi-pagi untuk anak-anaknya. Ini bagian dari penganekaragaman pangan masyarakat sini,” tambah tokoh adat lainnya, Suparman Guluks.
Pada era 1970 hingga 1990-an, bingko tak hanya jadi konsumsi rumah tangga, tapi juga sumber penghasilan tambahan. Ibu-ibu Pedamaran menjajakan bingko keliling kampung, biasanya oleh anak-anak mereka sendiri, menggunakan tampah dari bambu.
“Saya dulu jualan bingko buatan umak. Satu biji 5 rupiah, saya dapat upah 1 rupiah buat jajan sekolah,” kenang Ayani, salah satu pembuat bingko yang masih eksis hingga kini.
Kini, gaya jualannya berubah. Bingko tak lagi dijajakan keliling, tapi cukup dijual di rumah. “Saya mulai buat jam 3 sore, jam 5 sore pasti habis. Lumayan buat tambah-tambah uang dapur,” kata Ayani.
Meski zaman berubah, bingko tetap lestari. Penggemarnya masih banyak. Harganya pun tak berubah jauh, antara Rp500 hingga Rp1.000 per biji.
“Kalau mudik ke Pedamaran, saya pasti cari bingko. Rasanya beda, lebih gurih, lebih legit, kelapanya terasa. Ada juga bingko dari pisang gedah, dibungkus daun pisang, aromanya khas,” ujar Dedi Irwanto, perantau asal Pedamaran yang kini tinggal di Palembang. (DSK)

