RELUNG.ID – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terus memperketat pengawasan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 307.107 QR Code telah diblokir karena diduga digunakan secara ilegal.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan pemblokiran dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan penyaluran Pertalite dan Solar bersubsidi tepat sasaran. Jumlah QR Code yang diblokir diperkirakan masih akan terus bertambah seiring ditemukannya penyalahgunaan di lapangan.
“Kami terus melakukan optimalisasi agar distribusi BBM subsidi tepat sasaran. Hingga saat ini sudah dilakukan pemblokiran sekitar 307.107 QR Code dan jumlahnya terus bergerak naik karena masih ditemukan QR Code yang diproduksi secara ilegal,” ujar Wahyudi dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (16/7).
Untuk menutup celah penyalahgunaan, BPH Migas bersama PT Pertamina Patra Niaga mulai menyiapkan sistem pengelolaan QR Code yang lebih aman mulai 2026.
Menurut Wahyudi, sistem tersebut akan memanfaatkan enterprise data warehouse yang mengintegrasikan data BPH Migas dengan Pertamina Patra Niaga sehingga QR Code tidak lagi mudah dipalsukan maupun diduplikasi.
“Nanti QR Code akan kita kelola bersama sehingga hasil evaluasinya dapat menjadi acuan agar QR Code ini tidak bisa diduplikasi,” katanya.
Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah daerah, BPH Migas menemukan modus penggunaan QR Code ilegal untuk membeli BBM subsidi secara berulang.
Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab penyaluran BBM subsidi tidak tepat sasaran dan berpotensi menimbulkan kerugian negara.
Selain memblokir QR Code ilegal, BPH Migas juga mencatat hasil penindakan terhadap penyalahgunaan BBM subsidi sepanjang 2026 mencapai ratusan ribu liter.
Wahyudi mengungkapkan total BBM yang berhasil disita dari berbagai operasi penertiban mencapai 479.267 liter, menunjukkan penyalahgunaan BBM bersubsidi masih cukup tinggi.
“Intensitas pelanggaran masih cukup besar. Jumlah BBM yang disita pada periode 2026 mencapai sekitar 479.267 liter,” ujarnya.[THQ]

