RELUNG.ID – Kasus delay maskapai penerbangan Super Air Jet tak hanya dirasakan oleh mantan Gubernur Jawa (Jabar) Ridwan Kamil.
Kali ini, yang menjadi korban delay Super Air Jet yakni Helmy Yahya saat berkunjung di Banyuwangi, Minggu (13/7/2025).
Pada akun instagram resminya, Helmy Yahya mengungkakan kekecewaannya terhadap maskapai tersebut.
Meski demikian, dirinya mengaku tetap bersabar dan memberikan saran agar kedepan maskapai tersebut menjadi lebih baik.
“Sekadar saran untuk @superairjet dan siapapun yang masih memerlukan dukungan pelanggan,” tulisnya dalam keterangannya.
Dia mengatakan, untung dirinya masih diberi kesabaran, namun dirinya paham apa yang dirasakan Kang RK (Ridwan Kamil) di Denpasar karena pesawat delay.
Jadi dirinya juga mengalami hal yang sama, dirinya dari Banyuwangi meresmikan setelah pabrik milik salah satu muridnya.
Helmy Yahya pun menerangkan kronologi keterlambatan penerbangan yang dialaminya terhadap maskapai Super Air Jet ini.
Jadwal semula pukul 10.55 WIB, lalu diundur menjadi pukul 12.00 WIB. Setelah itu ditunda lagi ke pukul 15.00 WIB, tetapi tetap tidak ada kepastian.
“Jadi di-schedule tadi 10.55 WIB kemudian di-delay jam 12.00, di-delay lagi jam 15.00 WIB, dan jam 15.00 WIB pun katanya belum pasti,” terangnya.
Helmy sempat mempertimbangkan untuk berpindah jalur penerbangan ke Surabaya, tetapi kembali dijanjikan oleh pihak maskapai bahwa penerbangan pukul 15.00 WIB akan tersedia. Akibat delay tersebut, beberapa agenda pentingnya terpaksa dibatalkan.
Dia meminta maskapai Super Air Jet agar serius dalam berbisnis dan jangan melihat dari sisi diri sendiri. Penumpang juga harus dipikirkan.
“Pikirkan penumpang. Saya harus cancel pertemuan yang penting dan ada orang dari luar kota ingin makan siang dengan saya tadi, tetapi sudah hilang. Saya tadi juga sudah pucat karena ada sahabat yang nanti malam menikahkan anaknya di mana saya komit untuk hadir,” ungkapnya.
Terlebih lagi, penerbangan dari Banyuwangi ini masih minim karena hanya ada satu penerbangan. Sedangkan, dirinya besok akan dipanggil RDP untuk dimintai saran Undang-Undang Penyiaran.
Menurutnya, keterlambatan penerbangan merugikan penumpang dan berharap maskapai lebih transparan serta mengutamakan kepentingan pelanggan.
“Saya hanya berharap pikirkanlah kepentingan penumpang, pikirkan kepentingan pelanggan, saya enggak tahu alasannya delay karena tidak terbuka juga,” terangnya.
“Kalau alasannya cuma kurang penumpang atau kalau dilakukan jam sekian rugi, come on, enggak semua mikir untung rugi. Orang juga punya kepentingan,” tambahnya.
Dia berhadap lahir brand-brand baru di dunia penerbangan, tetapi ia menekankan apa pun maskapainya agar memikirkan kepentingan setiap penumpang.
“Perusahaan dan brand yang akan bertahan di masa depan adalah mereka yang benar-benar mengutamakan kepentingan pelanggan dan konsumennya,” pungkasnya. (vid)

