RELUNG.ID – Seorang pria bernama Rizki (27) mendatangi ruang pengaduan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Palembang, Selasa (16/6) malam.
Kedatangan pria yang tinggal di Komplek Griya Indah, Kecamatan Sako Palembang ini untuk melaporkan dugaan penyekapan disertai pengeroyokan yang dialaminya.
Kepada petugas, korban menjelaskan persoalan bermula ketika dirinya mengambil 5.000 liter solar dengan nilai sekitar Rp72 juta.
Namun saat hendak melakukan pembayaran, rekening bank miliknya mengalami kendala sehingga transaksi tidak dapat dilakukan malam itu juga.
“Saya sudah menjelaskan kalau ATM dan rekening sedang bermasalah. Dana sebenarnya ada dan akan ditransfer melalui rekening adik saya, tetapi saat itu handphonenya tidak aktif sehingga tidak bisa dihubungi,” ujar korban
Menurutnya, pihak penjual solar kemudian mendatangi rumahnya untuk membicarakan persoalan tersebut. Awalnya, pertemuan berlangsung dengan tujuan mencari solusi terbaik. Namun situasi berubah menjadi tegang setelah terjadi perdebatan.
“Kami hanya minta waktu sampai pagi untuk menyelesaikan pembayaran. Niat kami baik dan ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan. Tapi mereka tetap memaksa pembayaran harus dilakukan malam itu juga,” katanya.
Korban mengaku tak menyangka perdebatan tersebut berujung aksi kekerasan. Ia mengaku dipukul secara bersama-sama hingga mengalami sejumlah luka di tubuhnya. Tak hanya itu, korban juga mengaku sempat disekap oleh para terlapor.
“Tangan dan kaki saya diikat pakai tali, mata saya ditutup, lalu saya dipaksa masuk ke dalam mobil. Setelah itu saya dibawa ke sebuah pool kendaraan,” ungkapnya.
Sesampainya di lokasi tersebut, Rizki mengaku kembali mendapat perlakuan kasar.
“Di sana saya kembali dipukul oleh beberapa orang. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi saya sudah diikat,” tuturnya.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa, (16/6) sekitar pukul 02.00 WIB di kawasan Jalan SMB II Kecamatan Alang-Alang Lebar itu menyebabkan korban mengalami luka robek di kepala, kedua mata lebam, bibir pecah, luka pada hidung, serta memar di bagian leher.
Meski dalam kondisi tertekan, korban mengaku tetap berusaha mencari jalan keluar agar pembayaran dapat diselesaikan.
“Saya dan keluarga sudah mencoba menghubungi beberapa kerabat untuk membantu. Tapi karena sudah tengah malam, tidak ada yang bisa dihubungi. Saya hanya meminta waktu sampai pagi, tetapi mereka tidak menerima dan akhirnya saya dipukul,” katanya.
Oleh karena itulah saya melapor ke pihak kepolisian agar para pelaku dapat ditangkap dan diproses hukum yang berlaku.
Sementara itu Ka, SPKT Polretabes Palembang Iptu Sugriwa melalui Pamapta Ipda Tamia Ramadhany menyampaikan laporan korban sudah diterima.
“Laporan akan segera kami teruskan ke Satreskrim Polrestabes Palembang untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” tutupnya. (DNP)

