RELUNG.ID- Nama Shuniyya Ruhama mendadak ramai dibicarakan warganet usai video ceramahnya beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Shuniyya tampil mengenakan busana muslim dan jilbab putih saat memberi ceramah kepada sekelompok jamaah. Potongan video itu menuai perhatian karena latar belakang Shuniyya yang tak biasa.
Belakangan diketahui, Shuniyya Ruhama adalah seorang waria asal Kendal, Jawa Tengah. Sosoknya mencuri perhatian publik karena dianggap memiliki latar belakang yang cukup mentereng. Ia merupakan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, lulusan Jurusan Sosiologi FISIPOLtahun 2004 dengan predikat cumlaude dan IPK 3,56.
Tak hanya berprestasi secara akademik, Shuniyya juga dikenal sebagai pengusaha batik. Ia menjalankan usaha batik dengan metode canting elektrik di daerah asalnya, Weleri, Kendal. Batik produksinya bahkan telah menembus pasar internasional, diminati pembeli dari Amerika Serikat, Rusia, Afrika, hingga Ceko.
Namun, ceramah Shuniyya menjadi sorotan karena identitas gendernya. Dalam postingan akun Instagram @medsos\_rame, disebutkan bahwa Shuniyya adalah seorang waria dan pernah mendirikan paguyuban waria di Kendal. Hal itu kemudian menuai banyak kritik dari warganet yang mengomentari penampilannya saat berdakwah.
Meski demikian, latar belakang Shuniyya sebagai waria bukanlah rahasia. Ia sendiri telah menuliskannya dalam sebuah buku berjudul “Jangan Lepas Jilbabku! Catatan Harian Seorang Waria” yang diterbitkan Galang Press pada Mei 2005. Dalam buku tersebut, Shuniyya mengaku sebagai seorang transeksual, yakni memiliki fisik laki-laki namun merasa memiliki jiwa perempuan.
Dalam kutipan bukunya, Shuniyya menulis, “Fisikku laki-laki tapi jiwaku perempuan.”Ia juga menceritakan perjuangannya memahami identitas diri hingga bisa menerima dirinya sebagai seorang waria.
Di media sosial, meski akun Instagram pribadinya @shuniyya\_ruhama sudah tidak aktif sejak 2023, kolom komentarnya kembali dibanjiri warganet. Unggahan terakhirnya kini dipenuhi ratusan komentar yang mayoritas menyampaikan kritik hingga harapan agar ia kembali ke “kodrat” semula.
Selain dikenal sebagai pembatik dan penceramah, Shuniyya juga mengaku sebagai simpatisan Nahdlatul Ulama (NU). Ia kerap hadir dalam acara Fatayat NU dan mengaku bangga menjadi bagian dari santri NU.
Kontroversi ceramah Shuniyya Ruhama kembali membuka diskusi publik seputar keberagaman identitas gender di ruang keagamaan. Banyak pihak mempertanyakan tempat dan peran seseorang dengan latar belakang seperti Shuniyya dalam menyampaikan dakwah, sementara yang lain menyerukan toleransi dan empati.[YKP]

