RELUNG.ID – Meski suhu udara di Sumatera Selatan (Sumsel) masih berada dalam kategori normal, banyak masyarakat mengeluhkan cuaca yang terasa lebih panas dalam beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang membuat suhu yang dirasakan tubuh jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang tercatat pada alat pengukur cuaca.
Kepala Stasiun BMKG Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, mengatakan hasil pengamatan selama tiga hari terakhir menunjukkan suhu udara di Sumatera Selatan berkisar antara 25 hingga 34 derajat Celsius.
Namun, kondisi tersebut dapat terasa jauh lebih panas saat masyarakat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hingga sore hari.
“Suhu udara maksimum memang terjadi pada siang sampai sore hari. Pada periode tersebut masyarakat akan merasakan kondisi yang lebih panas, terutama saat berada di ruang terbuka,” ujar Siswanto, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, suhu yang dirasakan tubuh atau heat index dapat mencapai lebih dari 39 derajat Celsius meskipun suhu udara yang tercatat lebih rendah.
Hal itu dipengaruhi oleh kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan udara yang rendah, serta paparan sinar matahari secara langsung ke permukaan kulit.
“Suhu yang dirasakan tubuh bisa lebih panas dibandingkan suhu yang terukur karena adanya pengaruh kelembapan udara dan paparan sinar matahari langsung,” jelasnya.
BMKG menilai kondisi tersebut masih lazim terjadi selama periode musim kemarau, terutama saat langit cerah dan intensitas penyinaran matahari meningkat.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampak cuaca panas yang berpotensi memicu dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan lainnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, BMKG mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, penggunaan tabir surya, topi, payung, maupun kacamata hitam juga disarankan untuk mengurangi paparan langsung sinar ultraviolet (UV).
“Perbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi. Kemudian gunakan tabir surya, topi atau kacamata hitam saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” kata Siswanto.
BMKG juga mengingatkan masyarakat, khususnya petani dan pelaku perkebunan, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi cuaca kering selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang sulit dikendalikan.[THQ]

