RELUNG.ID- Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) periode Januari–Agustus 2025 tercatat mencapai 1.416,9 hektare (ha). Angka ini turun signifikan sekitar 55,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 3.160,3 ha.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan (KLH), Ferdian Kristanto, mengatakan penurunan luasan karhutla dipengaruhi oleh curah hujan yang masih cukup tinggi serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumsel dan Jambi.
“Faktor hujan sangat membantu dalam pencegahan karhutla. Saat ini kondisi di lapangan masih banyak lahan yang basah bahkan ada yang masih terendam,” ujar Ferdian, Rabu (20/8/2025).
Berdasarkan analisis citra satelit, karhutla di Sumsel tahun ini didominasi lahan mineral dengan luas 1.381,9 ha. Angka ini turun 23,1 persen dibanding tahun 2024 yang mencapai 1.796,3 ha. Sementara lahan gambut hanya menyumbang 35 ha, jauh menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 1.364 ha atau turun hingga 97,4 persen.
“Kebakaran di lahan mineral masih mendominasi meski terjadi penurunan, sedangkan kebakaran di lahan gambut berkurang sangat signifikan,” jelas Ferdian.
Wilayah dengan kebakaran terluas tahun ini yakni Ogan Ilir dengan 317 ha, disusul Musi Banyuasin (Muba) 314 ha yang terdiri dari 305,2 ha lahan mineral dan 8,9 ha lahan gambut. Lalu Ogan Komering Ulu (OKU) seluas 190,4 ha dan Musi Rawas 151,7 ha.
Sejumlah daerah lain seperti Empat Lawang, Lahat, dan Pagar Alam juga mengalami karhutla, namun dengan skala yang lebih kecil.
Jika dibandingkan 2024, wilayah penyumbang karhutla masih relatif sama. Ogan Ilir saat itu mencatatkan 320,6 ha, sedangkan Muba lebih luas lagi mencapai 534,9 ha dengan dominasi kebakaran di lahan gambut 1.167,1 ha. Meski mengalami penurunan, keduanya tetap menjadi titik rawan utama karhutla Sumsel.
Ferdian menyebutkan, selain faktor alam seperti kekeringan dan ketersediaan bahan bakar alami, faktor manusia juga menjadi penyebab utama karhutla.
“Di Ogan Ilir misalnya, kebakaran sering dipicu oleh aktivitas pembukaan kebun palawija. Ada juga pembukaan lahan dengan cara dibakar. Saat ini muncul isu peralihan komoditas dari karet ke sawit karena dianggap lebih menguntungkan,” katanya.
Ia menegaskan, upaya pencegahan terus dilakukan tim gabungan Manggala Agni dan BPBD melalui patroli pemantauan dan pemadaman di lokasi-lokasi rawan.[YKP]

