RELUNG.ID – Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu hanya 21 hari, luas lahan terbakar naik dua kali lipat, dari 1.416,9 hektare menjadi 2.935,8 hektare pada akhir Agustus 2025.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, menyebut data tersebut hasil analisa citra satelit Kementerian Kehutanan bersama BRIN.
“Kebakaran paling banyak terjadi di lahan mineral dengan luas 2.855,6 hektare, sementara di lahan gambut tercatat 80,2 hektare,” ujarnya, Selasa (30/9/2025).
Tercatat tujuh daerah menjadi episentrum karhutla di Sumsel. Musi Banyuasin menduduki posisi pertama dengan 855,8 hektare terbakar, disusul Ogan Komering Ilir 473,6 hektare, Musi Rawas 362,6 hektare, Ogan Ilir 351,1 hektare, Ogan Komering Ulu 265,5 hektare, Empat Lawang 164,5 hektare, dan Muara Enim 116,7 hektare.
Wilayah lain juga tidak luput, meski dengan luasan lebih kecil. Misalnya Lahat 99,2 hektare, Muratara 86,7 hektare, PALI 76,7 hektare, Banyuasin 37,8 hektare, hingga Pagar Alam 2,1 hektare. Hanya Prabumulih, OKU Selatan, dan Palembang yang tercatat nihil titik karhutla.
Adapun kebakaran gambut seluas 80,2 hektare terjadi di lima daerah, dengan OKI mencatat luasan terbesar yakni 45,4 hektare. “Kebakaran gambut ini patut diwaspadai karena dampaknya lebih lama dan lebih sulit dipadamkan,” tambah Ferdian.
Lonjakan signifikan dalam tiga minggu terakhir mengindikasikan perlunya pengawasan lebih ketat, terutama di daerah rawan. Para ahli menilai jika tren ini berlanjut hingga musim kemarau puncak, ancaman kabut asap lintas wilayah bisa kembali menghantui Sumsel.[THQ]

