RELUNG.ID- Rismon Hasiholan Sianipar, yang sebelumnya menjadi sorotan dalam polemik tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, mendatangi kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, Kamis (12/3/2026).
Kedatangannya bertujuan untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Rismon mengatakan permintaan maaf tersebut tidak hanya ditujukan kepada Jokowi, tetapi juga kepada publik atas polemik yang berkembang terkait penelitiannya mengenai ijazah Presiden.
“Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik, apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca dan dikritik,” ujar Rismon usai pertemuan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa selama dua bulan terakhir dirinya kembali melanjutkan penelitian terhadap dokumen ijazah Jokowi. Dari kajian tersebut, ia menemukan sejumlah unsur keamanan yang terdapat pada ijazah analog milik Jokowi.
Menurutnya, pada dokumen tersebut terdapat tanda emboss dan watermark yang menjadi objek kajiannya. Sementara itu, ia menyebut tidak ditemukan penggunaan hologram pada ijazah tersebut.
“Setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya dari Universitas Gadjah Mada pada tahun yang sama, memang pada masa itu hologram belum digunakan sebagai pengaman ijazah. Yang digunakan adalah watermark dan emboss,” jelasnya.
Rismon juga menegaskan bahwa penelitian yang dilakukannya bersifat independen dan tidak memiliki keterkaitan dengan Roy Suryo maupun Tifa.
Ia menyebut hal tersebut juga berlaku dalam penulisan bukunya berjudul Jokowi’s White Paper. Menurutnya, buku setebal lebih dari 700 halaman tersebut disusun secara terpisah tanpa saling ketergantungan analisis antara para penulis.
“Metodologi penelitian saya sendiri tertuang sekitar 480 halaman dalam buku tersebut. Tulisan itu independen, tidak saling berkaitan secara analisis dengan penulis lain,” katanya.
Meski sebelumnya sempat menyatakan ijazah Jokowi palsu, Rismon kini menilai kesimpulan mengenai keaslian dokumen tersebut harus didasarkan pada metode penelitian yang objektif.
“Jawaban soal asli atau tidak harus dijawab melalui metodologi ilmiah, bukan sekadar narasi,” pungkasnya.[YKP]

