RELUNG.ID- Bulan Ramadhan selalu membawa berkah tersendiri bagi para pengrajin makanan tradisional di Kota Pagar Alam. Salah satunya adalah para pengrajin dawet yang berada di Dusun Pagar Alam, Kecamatan Pagar Alam Utara.
Dawet, panganan berbahan dasar tepung beras ini telah lama dikenal sebagai makanan khas daerah tersebut dan hanya muncul setahun sekali, tepatnya selama bulan Ramadhan.
Dawet menjadi hidangan yang selalu ada saat berbuka puasa di kalangan masyarakat Pagar Alam. Jelang beberapa hari sebelum memasuki awal puasa, para pengrajin telah sibuk memproduksi dawet sesuai dengan pesanan pelanggan.
Sebelum didistribusikan atau dijual, dawet yang telah jadi akan disimpan di tempat yang sejuk agar tetap awet dan tidak rusak.
Candra, salah seorang pengrajin dawet, mengatakan bahwa usaha pembuatan dawet ini telah dijalankan oleh keluarganya selama empat generasi. Produksi dawet hanya dilakukan selama satu bulan dalam setahun, yakni selama bulan Ramadhan.
Untuk memenuhi tingginya permintaan, Candra mampu menjual ratusan kantong dawet setiap hari dengan omzet mencapai Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per hari.
“Kami sangat sibuk saat bulan Ramadhan ini, bahkan pesanan terus mengalir. Kami bisa menjual ratusan kantong dawet setiap hari,” kata Candra.
Proses pembuatan dawet sendiri mirip dengan proses pembuatan dodol, di mana tepung beras dicampur dengan air, lalu dimasak di atas tungku api besar hingga adonan mengental.
Setelah adonan dingin, kemudian dicetak menjadi bentuk dawet menggunakan alat seperti saringan.
Candra menjelaskan bahwa perbedaan antara dawet dan cendol terletak pada bahan baku yang digunakan. Cendol terbuat dari tepung tapioka atau sagu, sementara dawet menggunakan tepung beras, yang membuatnya lebih rapuh dan tidak tahan lama.
“Jika tidak habis terjual, dawet tidak bisa disimpan dan harus dibuang karena dalam waktu lebih dari satu hari, dawet akan hancur,” ungkap Candra.
Sementara itu, cendol yang terbuat dari tepung tapioka atau sagu jauh lebih tahan lama.
Selain perbedaan bahan baku, perbedaan lain antara cendol dan dawet terletak pada pewarnaan. Cendol menggunakan pewarna makanan pabrikan, sementara dawet menggunakan pewarna alami yang berasal dari daun suji.
Daun suji memberikan warna hijau cerah pada dawet, sementara dawet yang tidak menggunakan pewarna akan menampilkan warna putih alami dari tepung beras.
“Warna dawet buatan kami hanya dua varian, yaitu hijau dari daun suji dan putih alami dari tepung beras itu sendiri. Dua jenis dawet ini paling diminati masyarakat untuk menu berbuka puasa,” tutup Candra.
Dengan rasa yang khas dan bahan-bahan alami yang digunakan, dawet khas Pagar Alam terus menjadi pilihan favorit untuk berbuka puasa bagi masyarakat setempat.[TFK]

