RELUNG.ID– Polemik lagu berbahasa Sunda “Lalaki Langit, Lalanang Bejad” yang diperkenalkan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Menyusul ramainya kritik publik, Dedi memanggil Om Zein ke Kantor Gubernur Jawa Barat untuk meminta klarifikasi terkait makna lagu yang dinilai sebagian kalangan merendahkan perempuan.
Dalam pertemuan tersebut, Om Zein menjelaskan bahwa lagu itu bukan ditujukan untuk menyudutkan perempuan. Menurutnya, karya tersebut merupakan refleksi perjalanan hidup dan pengalaman pribadinya sebelum menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Ia mengungkapkan, lagu tersebut berawal dari sebuah puisi yang ditulis pada 2020, ketika dirinya masih berusaha memaknai perjalanan hidupnya yang penuh gejolak.
Mendengar penjelasan tersebut, Dedi Mulyadi menyebut lagu itu sejatinya merupakan pengakuan jujur Om Zein terhadap masa lalunya.
“Saya suka menyebutkan, ini adalah Bupati yang jujur karena mengakui sebelum menjadi Bupati sudah meniduri sekian ratus wanita, betul nggak?” kata Dedi.
“Iya, jadi cerita tentang diri saya sendiri,” jawab Om Zein.
Om Zein menjelaskan, kalimat dalam lagu yang mengundang kontroversi lahir dari cara pandangnya saat itu terhadap kehidupan. Ia mengaku bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki karena merasa jika memiliki sifat yang sama namun terlahir sebagai perempuan, konsekuensi yang dihadapi akan jauh lebih berat.
“Saya berpikir pada saat itu, kenapa saya pakai dengan kalimat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang menciptakan saya jadi laki-laki. Karena kalau saya diciptakan menjadi perempuan dan tentunya saya nakal karena laki-laki juga dalam posisi nakal, maka saya akan berisiko tinggi seperti apa yang disebutkan dalam lagu itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, puisi tersebut dibuat sebagai bentuk refleksi diri atas kehidupan masa lalunya, bukan untuk menghina atau merendahkan perempuan.
Meski demikian, Om Zein mengakui karya tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan memutuskan menghapus lagu tersebut dari seluruh akun media sosialnya.
Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi menilai persoalan utama bukan terletak pada pengalaman pribadi Om Zein, melainkan ketika pengalaman tersebut dipublikasikan dan dikonsumsi masyarakat luas.
“Cuma persoalannya bahwa peristiwa yang bersifat pribadi itu dipublikasikan. Maka publik susah menangkap isi pesan itu. Sehingga menjadi sebuah tafsir atau pemahaman Bapak melakukan penghinaan terhadap perempuan,” ujar Dedi.
Menurutnya, publik belum tentu memahami konteks yang ingin disampaikan dalam sebuah karya, apalagi jika karya tersebut dibuat oleh seorang pejabat publik yang setiap ucapan dan tindakannya menjadi perhatian masyarakat.
Dedi juga mengingatkan Om Zein agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan maupun karya kepada publik.
“Yang kedua, Bapak juga hari ini adalah Bupati. Karena Bupati pejabat publik, maka seluruh ucapan dan tindakannya akan dipertanggungjawabkan kepada publik. Masalahnya karena Bapak Bupati,” tegasnya.
Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejad” sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial setelah dinilai mengandung lirik yang merendahkan perempuan. Polemik tersebut memicu gelombang kritik terhadap Om Zein hingga akhirnya ia memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.[YKP]

