RELUNG.ID – Peta politik menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan masih sangat dinamis. Selain kekuatan figur di daerah, arah kontestasi juga diperkirakan akan dipengaruhi perkembangan politik di tingkat nasional.
Pengamat Politik Sumsel sekaligus Direktur Teras Indonesia, Ahmad Haekal Haffafah, mengatakan jabatan sebagai ketua partai memang memberikan keuntungan bagi seseorang yang ingin maju pada Pilgub. Namun, keuntungan itu baru sebatas mempermudah langkah awal.
Menurut Haekal, ketua partai memiliki posisi yang lebih kuat dalam membangun komunikasi politik dan menjajaki kerja sama dengan partai lain. Mereka juga lebih mudah mengamankan syarat pencalonan apabila aturan ambang batas atau threshold masih diberlakukan.
“Keuntungan utamanya adalah lebih mudah mengamankan threshold atau ambang batas pencalonan. Itu menjadi modal awal dalam membangun kekuatan politik,” katanya.
Meski demikian, Haekal mengingatkan bahwa Pilgub Sumsel tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai di daerah. Pengalaman selama ini menunjukkan keputusan penting sering kali dipengaruhi arah kebijakan partai di tingkat pusat.
Karena itu, perkembangan politik nasional tetap akan menjadi salah satu faktor yang menentukan siapa yang akhirnya mendapat tiket untuk bertarung.
“Kita belum mengetahui seperti apa ambang batas pencalonan ke depan maupun dinamika politik nasional. Selain itu, lima partai besar tentu memiliki peluang lebih dominan, ditambah faktor dukungan elite di tingkat pusat,” ujarnya.
Menurut Haekal, bukan tidak mungkin peta politik yang saat ini terlihat di Sumsel berubah ketika partai-partai mulai membangun koalisi menjelang Pilgub. Dukungan elite partai di pusat bahkan bisa menjadi penentu arah koalisi maupun pasangan calon yang akan diusung.
Oleh sebab itu, Haekal juga mengingatkan seluruh ketua partai di Sumsel bahwa mereka tidak bisa hanya mengandalkan jabatan yang mereka pegang saat ini. Beberapa tahun menjelang Pilgub kedepan, harus dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan masyarakat, memperkuat organisasi, serta menunjukkan hasil kerja yang nyata. Para ketua partai harus mulai membangun citra dan memperluas jangkauan politiknya sejak sekarang.
“Hingga saat ini belum ada figur yang benar-benar menonjol. Kalau mencari pemimpin yang merakyat, tidak cukup hanya dari perilaku, tetapi harus tercermin melalui kebijakan yang pro-rakyat,” pungkasnya. (DSK)

