RELUNG.ID — Presiden Prabowo Subianto angkat bicara soal sorotan publik terhadap intensitas kunjungan luar negerinya. Ia menegaskan, agenda tersebut bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan bagian dari strategi menjaga kepentingan nasional, khususnya lapangan kerja dan keberlanjutan ekonomi Indonesia.
Dalam sebuah pertemuan bersama jurnalis senior di Hambalang, Bogor, Prabowo mengakui bahwa aktivitas diplomasi kerap disalahartikan sebagai “jalan-jalan”. Padahal, menurutnya, setiap kunjungan memiliki misi konkret, termasuk melobi mitra internasional demi membuka peluang perdagangan.
“Kalau saya tidak turun langsung, di ujungnya tetap Presiden yang harus hadir. Ini bukan soal jalan-jalan, tapi soal menjaga rakyat,” ujarnya.
Prabowo menekankan bahwa posisi Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam membuatnya sejak lama menjadi incaran banyak negara. Karena itu, membangun hubungan internasional bukan pilihan, melainkan kebutuhan strategis.
Ia juga menyoroti peran Indonesia dalam berbagai forum global seperti ASEAN, G20, dan Organisasi Kerja Sama Islam. Keanggotaan tersebut, kata dia, menuntut kehadiran aktif Indonesia dalam setiap forum penting.
“Kalau kita diundang tapi tidak datang, itu tidak baik untuk hubungan diplomatik,” tambahnya.
Lebih jauh, Prabowo mengungkapkan bahwa upaya diplomasi yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata. Salah satunya melalui kesepakatan perdagangan seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang membuka akses pasar baru bagi produk Indonesia.
Ia menyebut, sejumlah komoditas seperti tekstil dan sepatu kini memiliki peluang ekspor lebih luas, bahkan dengan tarif yang lebih kompetitif hingga nol persen di beberapa negara mitra.
“Ini memberi jalan keluar bagi industri kita yang sebelumnya tertekan. Sekarang ada alternatif pasar,” jelasnya.[THQ]

