RELUNG.ID- Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Eko Patrio buka suara terkait video viral sejumlah anggota dewan yang berjoget dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (15/8).
Menurutnya, momen itu terjadi setelah sidang selesai dan merupakan bentuk apresiasi terhadap penampilan orkestra Universitas Pertahanan (Unhan).
“Jadi, momen yang beredar itu terjadi bukan saat sidang berlangsung, melainkan setelah Presiden Prabowo selesai menyampaikan pidato RAPBN 2026 dan Nota Keuangan. Pada saat penutupan acara, ada sesi hiburan orkestra Symphony Praditya Wiratama dari Unhan yang membawakan lagu-lagu daerah seperti Sajojo dan Gemu Fa Mi Re,” kata Eko Patrio kepada wartawan, Senin (25/8/2026).
Eko menjelaskan, para anggota DPR RI secara spontan bernyanyi dan bergoyang karena terhibur. Ia menilai hal itu wajar, apalagi orkestra tersebut diketahui sudah berlatih intensif selama sebulan penuh untuk tampil di momen kenegaraan.
“Lagu-lagu itu memang dimainkan untuk menutup acara, dan kami sebagai anggota DPR spontan ikut bernyanyi dan bergoyang menikmati suasananya. Menurut saya, itu adalah cara untuk mengapresiasi penampilan anak-anak muda dari Unhan yang tampil dengan sangat baik,” ujar Sekjen PAN tersebut.
Eko menegaskan bahwa joget anggota DPR RI itu tidak ada kaitannya dengan isu tunjangan yang sempat dikaitkan publik.
“Jadi mohon publik bisa melihat konteksnya secara utuh. Menurut saya ini bukan soal euforia mengenai tunjangan DPR, tapi soal menghargai penampilan seni budaya Indonesia dalam momen kenegaraan,” tegasnya.
Terkait video lain yang menampilkan dirinya ber-DJ dengan sound horeg bersama kader PAN, Eko menilai framing publik kurang tepat. Ia menjelaskan, kegiatan itu adalah acara internal untuk pembubaran panitia 17 Agustusan.
“Padahal itu dalam acara pembubaran panitia 17 Agustusan setelah kerja mereka mempersiapkan acara hampir satu bulan. Jadi jangan dipelintir seolah-olah kami tidak sensitif terhadap permasalahan bangsa,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, video anggota DPR RI berjoget dalam Sidang Tahunan MPR sebelumnya menuai kritik publik. Banyak pihak menilai aksi itu tidak pantas karena dikaitkan dengan besarnya gaji dan tunjangan yang diterima wakil rakyat.[YKP]

