RELUNG.ID – Kreator konten Ferry Irwandi mengajak masyarakat ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian hutan melalui gerakan “Patungan untuk Hutan”.
Ajakan tersebut disampaikan Ferry melalui akun TikTok pribadinya dalam sebuah video yang diunggah beberapa hari lalu.
Dalam video itu, Ferry memperlihatkan secara langsung kondisi kawasan hutan di Kalimantan yang terdampak kebakaran.
Ferry tampak berdiri di atas lahan yang telah menghitam akibat terbakar. Ia menyebut kawasan tersebut sebelumnya merupakan hutan lebat.
“Daerah yang kalian lihat ini dulunya hutan lebat, dan sekarang sudah habis. Benar-benar habis akibat kebakaran,” ujar Ferry dalam video tersebut.
Gerakan penggalangan dana itu mendapat respons dari masyarakat. Berdasarkan penelusuran pada laman penggalangan dana di Kitabisa.com, donasi “Patungan untuk Hutan” telah mencapai Rp4.120.798.237.
Jumlah tersebut dikumpulkan dari target sebesar Rp50 miliar.
Penggalangan dana ini dilatarbelakangi kembali maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan hingga Papua.
Melalui gerakan tersebut, masyarakat diajak mengubah kepedulian terhadap kelestarian hutan menjadi aksi nyata.
Dalam keterangan penggalangan dana, persoalan karhutla dinilai tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.
Dampak kebakaran dapat berlangsung lebih panjang, mulai dari kerusakan kawasan hutan, terganggunya habitat satwa, berkurangnya sumber air hingga ancaman terhadap kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Asap yang dihasilkan dari kebakaran juga dapat menyebar ke permukiman dan menyebabkan kualitas udara memburuk.
Karena itu, dana yang terkumpul melalui “Patungan untuk Hutan” diarahkan untuk mendukung rangkaian upaya penanganan, mulai dari pencegahan kebakaran, respons ketika bencana terjadi hingga pemulihan kawasan yang telah terbakar. Terdapat tiga fokus utama dalam gerakan tersebut.
Pertama, mitigasi, yakni mendukung berbagai upaya untuk mencegah kebakaran dan mengurangi risikonya. Kegiatan tersebut mencakup peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, perlindungan kawasan yang rentan, edukasi, pemantauan serta langkah pencegahan lainnya.
Kedua, respons kedaruratan. Dukungan diberikan ketika kebakaran terjadi, termasuk untuk penanganan darurat, bantuan bagi masyarakat terdampak dan kebutuhan respons cepat di lapangan.
Ketiga, restorasi. Dana juga diarahkan untuk membantu memulihkan ekosistem yang rusak akibat kebakaran, termasuk penanaman kembali, perlindungan habitat serta dukungan pemulihan dalam jangka menengah dan panjang.
Melalui gerakan tersebut, masyarakat tidak hanya diajak memberikan bantuan saat kebakaran terjadi. Lebih dari itu, mereka didorong ikut menjaga hutan yang masih tersisa sekaligus mendukung pemulihan kawasan yang telah mengalami kerusakan akibat karhutla. (vid)

