RELUNG.ID — Menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan hanya perkara memiliki postur ideal dan fisik yang kuat.
Sebanyak 52 pelajar terbaik dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan kini menjalani pembinaan intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi tugas pengibaran Sang Merah Putih pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Dari jumlah tersebut, terdiri atas 26 putra dan 26 putri. Sebanyak 50 peserta akan menjalankan tugas di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, sedangkan dua lainnya dipersiapkan untuk mewakili Sumsel di tingkat nasional.
Ipda Muhammad Mutasor, salah satu pelatih Paskibraka Sumsel, mengatakan pembinaan tidak hanya difokuskan pada kemampuan baris-berbaris. Para peserta juga ditempa dari sisi mental, sikap, fisik hingga kerohanian.
Menurutnya, tantangan pembinaan generasi muda saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Karena itu, para pelatih tidak hanya berusaha membentuk kemampuan teknis, tetapi juga membangun sikap dan karakter peserta.
“Latihan yang diberikan berupa mental. Anak sekarang zaman Gen Z kan beda. Kita mencoba melatih attitude mereka,” kata Mutasor.
Setelah pembentukan karakter, kondisi fisik menjadi perhatian berikutnya. Para peserta dituntut memiliki stamina dan kesiapan tubuh karena tugas sebagai Paskibraka membutuhkan ketahanan fisik hingga pelaksanaan upacara.
“Fisik itu penting karena itu harus dilakukan. Insyaallah mereka ada kemampuan dan jati diri untuk tampil dalam pembinaan Paskibraka ini,” ujarnya.
Perubahan pola hidup menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi para peserta. Sebelum mengikuti pembinaan, mereka memiliki rutinitas masing-masing. Namun setelah masuk dalam program Paskibraka, seluruh aktivitas mulai diatur dan dilakukan secara terprogram.
Mutasor mengatakan kondisi peserta saat pertama kali datang juga beragam. Ada yang belum sepenuhnya fit sehingga membutuhkan penyesuaian sebelum mengikuti latihan dengan intensitas tinggi.
“Kesulitan, namanya anak-anak baru datang kurang sehat. Biasanya berleha-leha, di sini terprogram pembinaan fisik, kerohanian,” katanya.
Pola pembinaan tersebut diharapkan membuat peserta tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga memiliki kedisiplinan dan ketahanan mental ketika menghadapi tekanan.
Sebab, menurut Mutasor, perjalanan menuju hari pelaksanaan tidak selalu berjalan dalam kondisi mental yang stabil.
Meski seluruh peserta telah dikukuhkan sebagai anggota Paskibraka, formasi pasukan yang akan digunakan pada hari pelaksanaan belum sepenuhnya ditetapkan.
Pelatih masih melakukan bongkar pasang formasi dengan mempertimbangkan perkembangan fisik dan mental masing-masing peserta selama masa pembinaan.
“Formasi masih bongkar pasang, belum dapat diputuskan karena kita melihat kondisi fisik, mental anak-anak,” jelasnya.
Menurut dia, proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan tim. Pelatih harus memastikan setiap peserta berada pada posisi yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi mereka.
Bahkan, pembinaan mental dilakukan secara bertahap. Para peserta tidak selalu diberikan perlakuan yang sama setiap hari karena pelatih ingin melihat bagaimana mereka menghadapi tekanan dan bangkit kembali.
“Karena membentuk mental, ini akan naik dan turun sampai hari H. Kemarin kita turunkan mentalnya supaya apa? Ilmu yang kami masukkan bisa masuk,” ujarnya.
Sebelum mencapai tahap pembinaan, para peserta terlebih dahulu melewati proses seleksi yang dilakukan melalui Kesbangpol Sumsel.
Materi seleksi tidak hanya menguji kemampuan fisik. Para calon Paskibraka juga menjalani tes wawasan kebangsaan, tes intelegensi umum (TIU), tes terkait wawasan kebangsaan (TWK), pemeriksaan kesehatan, penilaian postur, hingga wawancara.
Bakat dan kemampuan masing-masing peserta juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam proses seleksi.
“Alhamdulillah masing-masing memiliki kemampuan masing-masing,” tutupnya. (THQ)

